Jumat, 23 Januari 2009

Intel Mesir Interogasi Korban Gaza

GAZA (Arrahmah.com) - Sungguh keji penguasa negeri muslim ini, selain menutup perbatasan Rafah dan menghalangi bantuan yang ingin masuk Gaza (termasuk para dokter yang ingin menjadi relawan-red), kini mereka menunjukkan loyalitasnya kepada Israel dengan menginterogasi sejumlah pasien korban Gaza.

Sejumlah pasien korban luka yang di rawat di beberapa rumah sakit di Mesir memberikan kesaksian sepulangnya mereka dari negeri yang berbatasan dengan Palestina. Mereka mengatakan keamanan Mesir melakukan interogasi kepada sejumlah pasien.

Mereka (intel Mesir) menanyakan tentang keberadaan pabrik roket Palestina dan lewat mana senjata-senjata untuk kelompok pejuang Palestina diselundupkan ke Gaza.

Sementara itu, situs Aljazeera.net menyebutkan, sejumlah korban Gaza mendapatkan pemeriksaan di beberapa rumah sakit di Mesir secara ketat. Bagi yang menolak diancam tidak akan diberikan pengobatan di rumah sakit tersebut. Seperti diungkapkan sejumlah pasien yang mengatakan, orang-orang yang baru setengah sembuh diinterogasi oleh dinas keamanan Mesir. Mereka diminta menjelaskan tentang kelompok perlawanan. Mereka juga diminta untuk tidak lagi mendukung gerakan perlawanan Hamas dan gerakan lainnya.

Menurut salah seorang pasien yang dihubungi oleh al-Jazeera melalui telepon menyebutkan, pasukan keamanan Mesir meminta kepada sejumlah pasien yang ada di Mesir untuk menyampaikan pada gerakan Hamas, bahwa pemerintah Mesir tidak akan menggizinkan penyelundupan senjata ke Gaza. Mesir juga tidak akan mengizinkan Hamas membengun kembali kekuatanya di Gaza.

Sumber menambahkan, selepas mereka diobati sejumlah pasien diminta menunggu di satu ruangan. Kemudian beberapa intel Mesir mendatanginya dan menjanjikan identitas mereka akan dirahasiahkan dengan syarat ia mau bekerja sama dengan pihak intelijen. Mereka mulai menanyakan tentang perlawanan dan bagaimana mereka bisa menimbun senjata-senjata itu di Gaza.

Selain itu, mereka juga menanyakan apakah mungkin faksi-faksi perlawanan melakukan perlawanan kembali ke Israel. Mereka juga meminta informasi tentang Hamas dan para pemimpinnya.

“Awalnya mereka sangat lembut kepada kami," ungkap sumber. "Tetapi ketika kami menolak memberikan informasi, mereka mulai bertindak kasar hingga memukuli kami di tempat-tempat luka," lanjutnya.

"Mereka berkata, 'jangan dusta kamu, kamu dari gerakan Hamas atau dari brigade Al-Qossam kan?'" sumber tersebut menambahkan, mengingat kejadian saat dia diinterogasi di Mesir.

"Kamu harus berbicara, jika tidak maka kamu tidak akan diobati dan kami akan lemparkan kamu seperti anjing," tambahnya dengan nada gemetar.

Beranikah Obama Mengadili Bush?

JAKARTA (Arrahmah.com) - Barak Obama sudah resmi menjadi Presiden Amerika Serikat, sebagian masyarakat muslim berharap Obama bisa mendukung upaya terciptanya perdamaian termasuk proses perdamaian di Palestina.

Forum Umat Islam yang merupakan gabungan dari puluhan ormas-ormas Islam di Indonesia menutut Obama melaksanakan point pertama dari lima tuntutan umat hancurkan Israel (LUMAT Israel) yakni menyeret dan mengadili Ehud Olmert (PM Israel) dan Tzipi Livni (Menlu Israel).

"Harapan kami, berani tidak Obama melaksanakan tuntutan kami. Berani tidak Obama menyeret dan mengadili PM dan Menlu Israel karena mereka penjahat perang abad ini. Dan beranikah Obama menyeret George Bush sebagai penjahat perang internasional karena sudah membunuhi warga sipil hampir 1 juta orang Irak dan Afganistan," tegas Sekjen FUI M. Al-Khaththath kepada pers, di Jakarta.

Ia pun mengingatkan agar pemerintah dan umat Islam Indonesia memboikot produk Israel dan antek-anteknya, serta membatalkan pembelian senjata ke Israel, sebab jika hal dilakukan sama saja dengan memperkuat ekonomi Israel.

Khaththath menegaskan, siapa saja yang diketahui mendukung Israel harus diboikot, begitu juga siapa saja yang membeli produk Israel murni atau produk anteknya itu harus diboikot. Ia juga meminta agar pemerintah Indonesia membatalkan pembelian senjata ke Israel, karena kita khawatir kalau senjata ini bukan untuk melindungi rakyat, tapi untuk membunuhi rakyat.

"FUI menolak pembelian senjata dari Israel, tidak layak berkasih sayang, dan memberikan uang negara kita kepada zionis Israel," ujarnya.

Secara terpisah, Dubes Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi meminta kepada Obama agar tegas dalam menentukan sikap mengenai konflik di Gaza, dan memintanya belajar lebih banyak lagi tentang kondisi Timur Tengah.

Kemenangan Obama, Kemenangan Kaum Yahudi


WASHINGTON (Arrahmah.com) - Bagi Yahudi Amerika, kemenangan Barack Obama menjadi lambang kemenangan mereka.

Para Yahudi AS itu mengatakan, perjalanan hidup seorang Obama yang berasal dari keturunan imigran kulit hitam hingga berhasil mencapai kursi kepresidenan AS, mirip dengan perjuangan kaum Yahudi yang datang ke AS sebagai imigran yang mencari kehidupan yang lebih baik setelah mereka selalu menjadi kaum terusir di berbagai penjuru dunia.

Salah seorang tokoh Yahudi AS yang beranggapan seperti itu antara lain David Axelrod penasehat senior Gedung Putih dan kepala strategi kampanye Obama, yang selalu berusaha menutup-tutupi latar belakang ke-Yahudi-annya. Dalam sebuah pesta untuk Obama yang didanai sejumlah organisasi Yahudi di AS, Axelrod mengatakan, prestasi Obama merupakan satu lagi langkah maju kaum Yahudi dalam perjalanan Amerika Raya, yang sebelumnya telah dilakukan ayah dan kakek neneknya ketika mengungsi dari Bessarabia ke AS.

“Mereka datang ke AS bukan cuma untuk mencari tempat yang aman, tapi mereka juga mencari tempat yang menjanjikan dan memberikan kesempatan. Dan Amerika adalah lambangnya,” kata Axelrod.

Ia mengungkapkan harapannya, suatu saat nanti bukan hanya Obama yang bisa terpilih ke Gedung Putih, tapi anak-anak Yahudi lainnya seperti Rahm Emanuel yang ditunjuk Obama sebagai kepala staff Gedung Putih. Axelrod menyebut Emanuel sebagai “putera dari para imigran Israel.”

Axelrod mengaku sangat puas dan bangga begitu melihat hasil pemilu kemarin, dan melihat besarnya dukungan Yahudi AS pada Obama. Yang menurutnya merupakan dukungan terbesar pada Partai Demokrat dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

Tokoh Yahudi lainnya yang memiliki pandangan sama dengan Axelrod dah ikut hadir dalam acara perayaan untuk Obama adalah aktor Bryan Greenberg. Ia mengaku hadir dalam perayaan itu untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pemerintahan baru AS ini membina hubungan dengan komunitas Yahudi dan menanggapi isu-isu ke-Yahudi-an. Buat Greenberg, kepentingan Israel harus tetap nomor satu.

Greenberg menceritakan bagaimana nenek moyangnya berhasil lolos dari Jerman pada masa holocaust dan pengalaman perjalanannya ke Israel. Dari pengalamannya itu, Greenberg merasa betapa pentingnya bagi Yahudi memiliki satu tempat, setelah terusir dari satu tempat ke tempat lain selama ribuan tahun.

Rekan Greenberg, Debra Winger, salah satu pendukung Obama dan pendukung Yahudi mengatakan bahwa doa mereka telah dikabulkan dengan terpilihnya Obama. Bahkan Abner Mikvner, juru bicara kaum Yahudi Zionis, mantan anggota Kongres, mantan hakim federal yang juga mentor Obama berkomentar,“Obama adalah presiden Yahudi pertama“.

Tak heran, jika Barack Obama menunjukkan dukungan butanya pada Israel seperti juga presiden-presiden AS sebelumnya. Dan sama sekali tidak mengeluarkan pernyataan apapun melihat tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Melihat fakta yang terang benderang ini, bisakah Obama diandalkan menjadi pemimpin AS yang membawa perubahan bagi perdamaian dunia, terutama dunia Islam?

Taliban Angkat Bicara Mengenai Pelantikan Obama

AFGHANISTAN (Arrahmah.com) - Euforia mengenai pelantikan Obama bergema dimana-mana. 20 Januari, seakan-akan menjadi satu hari khusus di dunia karena semua mata memandang ke arah Gedung Putih.

Begitu juga dengan mujahidin Imarah Islam Afghanistan. Mereka mengumumkan statemen, memberikan tanggapan mengenai pelantikan resmi Barack Obama, Presiden AS ke-44.

Setelah kemenangan wakil Partai Demokrat Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika pada tanggal 4 November tahun lalu, kini resmilah pelantikannya sebagai presiden negara kesatuan Amerika pada tanggal 20 Januari kemarin. Dengan demikian berakhirlah masa jabatan thaghut jaman modern George W. Bush dengan berbagai kebijakan politiknya yang berlandaskan ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan ketakaburan terhadap kaum muslimin di seluruh dunia.

Belum diketahui bagaimana kebijakan di masa mendatang yang akan dibuat oleh Obama, apakah dia akan terus meneruskan kebijakan politik pendahulunya, ataukah mengambil strategi baru untuk memudahkan tatanan baru Amerika? Ini adalah pertanyaan pokok yang ada di benak banyak orang, khususnya penduduk Irak dan Afghanistan.

Barack Obama telah mengikrarkan janji setianya selama kampanye pemilihan umum di Amerika kepada rakyat amerika untuk memperbaiki situasi politik dan ekonomi, dan juga mengambil kebijakan politik yang adil terhadap orang-orang yang tertindas oleh perlakuan pemerintahan sebelumnya, Bush.

Obama memulai janjinya dengan berencana menutup penjara yang dibangun untuk menyiksa kaum muslimin (Guantanamo-red) dan kebijakan menarik mundur pasukan Amerika dari Irak dan memberikan keamanan di seluruh kawasan.

Akan tetapi kini setelah pelantikannya menjadi presiden resmi negara kesatuan Amerika kita akan lihat apa yang ia janjikan sewaktu kampanye pemilihan presiden yang lalu akan ia tepati ataukah hanyalah bualan belaka demi memenangkan kursi kepresidenan?

Pada kesempatan ini Departemen Politik Imarah Islam Afghanistan mengumumkan hal-hal berikut :

  1. Daripada mengirim pasukan tambahan ke Afghanistan maka hal pertama yang harus dilakukan oleh Obama adalah memadamkan api yang dinyalakan oleh pandahulunya, Bush, yang menyisakan agresi brutal terhadap penduduk muslim Afghanistan. Dia juga harus segera memikirkan penarikan mundur pasukan Amerika dari Afghanistan, bukan malah mengirim pasukan tambahan. Karena pengiriman pasukan tambahan tidak akan pernah menyelesaikan konflik dan permasalahan, bahkan merupakan penyebab utama krisis politik, administrasi dan keamanan bukan hanya sebatas di Afghanistan saja, tetapi di seluruh wilayah.
  2. Administrasi Obama harus meninjau kebijakan di masa mendatang mengenai permasalahan Irak dan Afghanistan. Dia juga harus mengambil langkah mendesak untuk menarik pasukan Amerika dari Afghanistan dan Irak tanpa ikatan atau syarat apapun. Dia juga harus berjanji tidak akan melakukan intervensi terhadap administrasi negara lain di masa yang akan datang.
  3. Obama harus mengambil pendekatan baru untuk menangani problematika Islam, khususnya menyangkut persoalan Afghanistan. Karena jika dia melanjutkan kebijakan politik pendahulunya yang kriminal, Amerika akan mengalami nasib sebagaimana yang dialami oleh Uni Soviet di masa lalu.
  4. Obama harus menyadari bahwa ancamannya kepada Afghanistan dengan pengiriman pasukan tambahan adalah sama saja dengan dia menambah bensin pada api yang menyala. Dan dari sana dapat dipahami bahwa administrasi baru Amerika ingin meneruskan rencana berdarah Bush yang menyebabkan kemarahan dan kebencian terhadap orang-orang Amerika.

Obama hendaknya mengetahui dengan seksama bahwa pengiriman pasukan tambahan ke Afghanistan tidak dan tidak akan pernah mempengaruhi spirit Mujahidin Imarah Islam. Dan bahkan akan menjadi penyebab memuncaknya spirit perlawanan jihad di dalam hati mereka, dan pada gilirannya akan membawa kemenangan dan pengusiran seluruh pasukan asing Amerika dan Aliansi Utara dari tanah muslim Afghanistan dengan izin Allah.

Wa maa dzalika 'alallahi bi'aziiz.. Dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah (untuk melakukannya)..

Departemen Politik Imarah Islam Afghanistan


Jumat, 16 Januari 2009

Israel Semakin Membuktikan Dirinya sebagai Penjahat Perang

GAZA (Arrahmah.com) - Memasuki hari ke-20, serangan pasukan Israel di Jalur Gaza makin tak terkendali. Mereka membombardir kantor lembaga bantuan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) yang menyebabkan bantuan kemanusiaan di kantor itu terbakar juga membombardir tiga rumah rumah sakit di Jalur Gaza.

Di Rumah Sakit al-Quds di distrik Tal Al-Hawa ada sekitar 500 warga Palestina ketika Israel menembakkan misil-misilnya yang menyebabkan rumah sakit itu terbakar. Menurut sejumlah petugas rumah sakit, kebakaran disebabkan oleh zat kimia fosfor putih yang digunakan tentara-tentara Zionis.

"Kami berhasil mengendalikan api, kecuali gedung administrasi. Kami berusaha agar api tidak menjalar ke bagian rumah sakit yang lain," kata mereka.

Selain Rumah Sakit Al-Quds, pasukan Zionis juga membombardir dua rumah sakit lainnya di Gaza. Belum ada data korban jiwa akibat serangan tersebut.

Tentara-tentara Zionis juga menggunakan bom-bom yang mengandung fosfor putih dalam serangan ke gedung PBB di Gaza. Saat serangan terjadi, ada sekitar 700 warga Palestina yang sedangberlindung di lokasi itu, sehingga menyebabkan dua warga sipil syahid dan tiga staff PBB luka-luka. Gudang-gudang tempat menyimpan bantuan makanan dan obat-obatan juga habis terbakar akibat bom-bom Israel.


Direktur UNRWA John Ging memastikan bahwa pasukan Zionis Israel memang menggunakan zat kimia berbahaya dalam perangnya di Gaza. "Kebakaran itu disebabkan oleh zat fosfor sehingga sangat sulit dipadamkan. Jika Anda menyemprotkan air, malah akan menimbulkan asap yang mengandung racun," kata Ging.

Juru Bicara UNRWA Christopher Gunnes menolak pernyataan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert yang mengatakan bahwa komplek gedung PBB tersebut terdapat warga Palestina bersenjata yang melakukan serangan terhadap tentara-tentara Israel.

"Selama serangannya, Israel tidak pernah mengangkat telepon dan memberitahu kami dimana ada militan di gedung kami. Tidak ada militan di gedung ini dan sekarang mereka (Israel) merubah cerita dan mengatakan bahwa ada militan di sekitar kantor kami," protes Gunnes pada Israel yang hanya menyampaikan permohonan maaf dan menyebut serangan mereka ke gedung PBB sebagai "kesalahan yang suram."

Serangan pasukan Zionis ke gedung PBB menuai kecaman dari berbagai pihak termasuk Sekjen PBB Ban Ki-moon. Di hari ke-20, sudah 1.150 warga Palestina yang gugur syahid dan korban luka mencapai 5.130 orang, lebih dari 330 korban jiwa adalah anak-anak.

Dalam serangan massifnya ke Gaza sepanjang hari Kamis kemarin, pasukan Zionis juga membombardir dua gedung yang menjadi kantor para wartawan internasional di Gaza, sebuah kantor Bulan Sabit Merah dan sebuah masjid di selatan kota Rafah.