Rabu, 10 Maret 2010

RISALAH DARI BALIK JERUJI BESI (Ujian Itu Pasti, Sabar Itu Pilihan)



Kepada:

Para Mujahid dan Mujahidah serta saudara-saudaraku yang ku cintai karena Allah di bumi Indonesia.

بسم الله الرحمن الرحيم

UJIAN ITU PASTI, SABAR ITU PILIHAN

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah dan Engkau jadikan kesedihan itu kemudahan jika Engkau berkehendak.”

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Saudara/Saudari, Ikhwani wa Akhwati Rakhimahullah…

Semoga Allah senantiasa memberiku kekuatan berupa keistiqamahan dan kesabaran dalam perjuangan Dakwah dan Jihad ini. Rapatkanlah barisan, bersatulah dalam barisan panji “LaailahaillAllah”, dan perangilah orang-orang yang memerangi Islam dengan segala kekuatan yang kalian mampui, melalui sarana apapun, fisik, media, harta, dan lain-lain hingga Dien (Islam) ini dan hanya milik Allah semata.

Usah kau ragu dalam memilih jalan terbaik ini, karena siapapun yang berdiri tegak di garis paling depan dalam menegakkan agama Allah ini, insyaAllah ia akan meraih kemuliaan di dunia dan syurga yang abadi di akhirat sana. Jika kalian mundur dan takut untuk mempertaruhkan jiwa dan raga kalian untuk Allah, usah bermimpi untuk mendapat kehidupan yang mulia atau mati syahid. Oleh itu, bertaqwalah kepada Allah, Syurga itu benar adanya, dan Neraka itu juga benar adanya. Raihlah Syurga Allah dengan berjihad membela agama-Nya. Janganlah kau bersedih dan janganlah pula kau takut, sesungguhnya Allah senantiasa bersama orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan-Nya.

Hidup yang sementara ini jangan kau pergunakan untuk main-main. Umur kita tidak akan lama, kematian segera menghampiri kita, kalu kenapa kita masih saja lalai dan takut dalam membela agama Allah? Mengapa kita tidak yakin dengan adanya Allah disamping kita? Mengapa selalu saja kita ragu akan kekuasaan Allah atas segala hal di dunia ini? Hasbunallah wa nikmal wakil…

Ikhwani wa Akhwati Fillah…

Jujur saja saudaraku, tanpa Iman dan Taqwa, ku juga goyah dan rasa terguncang dengan ujian dan segala hal yang telah Dia berikan, dari kesulitan menghadapi segala tuduhan-tuduhan dan fitnah yang telah direkayasa oleh para thaghut-thaghut laknatullah ‘alaihim ajma’in ini, kadang membuatku merasa marah dengan mereka, namun disaat semua tuduhan dan rekayasa yang mereka lemparkan kepadaku, ku anggap angin lalu dan ku letakkan seluruh jiwa-ragaku kepada Allah, maka hanya ketenagan dan keindahan dalam kesabaran sajalah yang ku nikmati, Alhamdulillah…

Renungkan hadits Qudsi ini, sungguh indah sekali,

ابن آدم خلقتك لنفسي فلا تلعب و تكفلت برزقك فلا تتعب ، ابن آدم اطلبني تجدني ، فإن و جدتني و جدت كلّ شيء ، و إن فُتَّك فاتك كلّ شيء ، و أنا أحب إليك من كلّ شيء من فيض القدير ، شرع الجامع الصغير

Artinya: “Wahai Anak Adam, Aku telah menciptakan engkau untuk beribadah kepada-Ku, maka janganlah engkau bermain-main, Aku telah menjamin rezkimu, maka usahlah engkau bersusah payah. Wahai anak Adam, carilah Aku, maka engkau akan dapatkan Aku, jika engkau telah mendapatkan-Ku, maka engkau telah mendapatkan segala-galanya. Dan jika engkau kehilangan Aku, berarti engkau telah kehilangan segala-galanya. Dan Aku lebih baik bagimu dari segala sesuatu.”

Subhanallah, sungguh indah sekali saudaraku. Hanya kepada Allah-lah kita meminta dan kepada Allah jualah kita kembali.

Ku renungkan hadits Qudsi ini berhari-hari, lalu ku simpulkan bahwa dunia ini tidak ada yang lebih tinggi dan berkuasa kecuali Allah. Lalu ku bertanya kepada diri ini, mengapa harus gundah, sedih dan goyah? Mengapa? Jika kita mendapatkan Allah, maka mita mendapatkan segalanya. AllahuAkbar…!

Saudaraku sekalian yang ku cintai karena Allah…

Ku hanya ingin mengajak kalian untuk terus bersemangat dalam situasi apapun. Apa yang ku dan teman-teman Mujahid yang lain hadapi adalah masih kecil dibanding ujian-ujian para anbiya (Nabi-nabi), sahabat Nabi dan tabi’in-tabi’in, beserta para mujahid-mujahid yang berjuang dibelahan dunia ini.

Berdo’alah agar kami semua tegar dan istiqomah, sehingga kemenagan Islam terus terlihat dan Dienul Islam ini kuat dan kaum Muslimin bersatu dibawah panji “LailahaillAllah”.

Do’akan ku agar dimudahkan Allah atas segalanya, dan dijauhkan dari segala fitnah-fitnah ini.
Hanya Allah sajalah tempatku meminta, Dialah yang berkuasa atas segalanya, sedangkan manusia tidak berfikir! Allahu Akbar..! Wal Izzatu Lillah…


والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Istana Uzlah, 1 Maret 2010
Saudara kalian,


Prince of Jihad @ M. Jibriel Abdul Rahman

http://freejibriel.blogspot.com/2010/03/ujian-itu-pasti-sabar-itu-pilihan.html

RISALAH BUAT PARA PENUNTUT ILMU


Menurutmu, wahai penuntut ilmu, bagaimana kalau penguasa itu adalah thoghut yang bengis dan mengendalikan manusia dengan kekuatan, menjauhi syariat Allah, dan membantu orang-orang Kristen dalam memerangi kaum muslimin di mana-mana? Mereka juga menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai hukum yang berlaku pada leher-leher manusia serta menghapuskan hukum hudud… dan masih banyak lagi perbuatan murtad dan zindiq lain yang mereka lakukan.Maka, waspadailah mereka. Waspadailah orang yang duduk dengan mereka, baik dari kalangan ulama dan para pejabat-pejabat penguasa, yang telah menajisi ilmunya dengan duduk bersama musuh-musuh Allah. Bahkan ikut serta dengan mereka dalam mengkaburkan berbagai fakta, menyesatkan rakyat dan menghias-hias kebatilan.


RISALAH BUAT PARA PENUNTUT ILMU

Bismillahirrohmaanirrohiim.Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak dan menelusuri tuntunanya hingga hari pembalasan.

Wa ba‘du:
Inilah risalah yang saya tujukan kepada saudara saya penuntut ilmu:

Assalamualaikum wa rahmatullah wa barokatuh…

• Wahai penuntut ilmu, inilah ungkapan dan wasiyat, yang saya tulis sebagai peringatan dan nasehat yang tulus untukmu, serta sebagai penunaian tanggung jawabku nanti. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla semoga risalah ini sampai kepadamu ketika engkau dalam kondisi mendapatkan nikmat, kesejahteraan dan kesehatan.


• Wahai penuntut ilmu, hati-hatilah jangan sampai niat engkau mencari ilmu syar’I demi meraih jabatan atau tujuan duniawi. Karena telah tsabit dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bahwa beliau bersabda,
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian, celakalah hamba busana, celaka dan amat buruklah ia, dan bila tertusuk duri tidak bisa tercabut lagi…” dst hingga akhir hadits.

dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami penuhi baginya amal usaha mereka di dalamnya dan mereka tidak dirugikan sama sekali.” [QS. Hud: 15]


Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab membuat sebuah bab dalam Kitab At-Tauhid yang berkaitan dengan ayat ini: Bab Termasuk Syirik: Ketika orang Beramal Karena Menginginkan Dunia.


Kemudian, Syaikh Abdurrohman bin Hasan telah menjelaskan bab ini dalam Syarahnya terhadap Kitab At-Tauhid yang berjudul Qurrotu ‘Uyuni `l-Muwahhidin, beliau Rahimahullah berkata: “Contoh dari ini adalah imam-imam masjid, para pengajar, dan mujahidin, yang bekerja dalam rangka memperoleh imbalan dari jihad yang ia lakukan.”Maka, berhati-hatilah dari ini, semoga Alloh memberi aku dan engkau anugerah berupa keikhlasan.


• Wahai pencari ilmu, ketika engkau mencari ilmu, niatkanlah itu untuk menghilangkan kebodohan dari dalam dirimu, sehingga engkau beribadah kepada Allah atas dasar ilmu yang terang. Selanjutnya, niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari umat ini, supaya nantinya engkau ajarkan kepada mereka agama Allah ‘Azza wa Jalla.


• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, menghafal Al-Quran memang berpahala dan merupakan satu keutamaan. Akan tetapi, mengamalkannya adalah kewajiban yang harus engkau laksanakan. Sesungguhnya kami melihat beberapa kaum di zaman sekarang, yang menganggap menghafal Al-Quran adalah kewajiban, sementara mengamalkannya adalah keutamaan. Maka, hindarilah sikap seperti ini. Sesungguhnya orang-orang seperti ini telah menihilkan banyak sekali nash-nash syar‘i. Aku ingatkan engkau dengan perkataan seorang shahabat Radiyallahu ‘anhu yang mengatakan: “Kami belajar 10 ayat dari Al-Quran, kami tidak melewatinya sebelum kami memahami dan mengamalkannya.” Sungguh, beruntunglah para shahabat.


• Wahai penuntut ilmu: Hindarilah, sekali lagi hindarilah, hindari betul sikap taklid. Sebab taklid adalah penyakit yang mematikan. Berpeganglah kepada Al-Quran dan sunnah serta pemahaman salafus sholeh, meskipun manusia tidak menerimamu.

Imam Syafi‘i Rahimahullah berkata,
“Para ulama, baik salaf maupun kholaf, sepakat bahwa siapa yang telah mengetahui dengan jelas sebuah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, maka ia tidak boleh meninggalkannya lantaran perkataan seseorang.”


• Wahai penuntut ilmu, hindarilah sifat mengkultuskan para tokoh atau mengagung-agungkan mereka. Hendaknya pengagungan terhadap Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya lebih engkau dahulukan daripada orang lain, siapapun dia. Jangan terlalu terpaku dengan nama dan sebutan-sebutan.


• Wahai penuntut ilmu, jauhilah sifat ‘ujub terhadap diri sendiri dan ghurur (besar hati). Sebab itu adalah biang kebinasaan orang-orang sholeh.


• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah, tugas paling penting dan kewajiban paling besar adalah tauhid. Maka konsentrasikanlah sebagian besar perhatianmu kepada urusan ini. Pelajari tauhid, baik secara ilmu, amal, dan dakwah. Sebab sebagian besar dakwah panutanmu –Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam— adalah untuk urusan tauhid.


• Wahai penuntut ilmu, bersikap jujurlah kepada saudara-saudaramu sesama pencari ilmu. Sesungguhnya aku telah menyaksikan ada beberapa orang penuntut ilmu yang sudah terbiasa berdusta dan terkenal suka menipu. Kami melihat mereka menghadapi suatu kaum dengan satu wajah, kemudian menghadapi kaum lain dengan wajah yang lain. Mereka mengatakan suatu perkataan kepadamu, lalu mengatakan kepada saudara-saudaramu yang lain dengan perkataan yang berbeda. Di sini ia mendukung, di sana ia mengingkari. Maka, hindarilah mereka, jangan bermajelis dengan mereka, sebab teman duduk itu akan berpengaruh terhadap dirimu.


• Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya medan-medan jihad kehilangan orang sepertimu, kamp-kamp tadrib mencari-cari orang macam dirimu. Lantas, di manakah engkau? Kenapa tidak membela orang-orang tertindas?


• Wahai penuntut ilmu, sesungguhnya orang-orang di sekelilingmu melihatmu sebagai tauladan. Maka jangan sampai sikap dudukmu menjadi penghambat mereka untuk berangkat berjihad.


• Wahai penuntut ilmu, hati-hati, janganlah engkau mengemukakan berbagai alasan untuk tidak berjihad yang itu tidak diterima, di mana kalaulah alasan itu diajukan oleh shahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam juga tidak diterima. Bersikap jujurlah engkau, sesungguhnya Allah senantiasa mengawasimu dan mengetahui hal-hal yang tersembunyi.


• Wahai penuntut ilmu, di manakah engkau dari firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah apabila dikatakan kepada kalian: Berangkatlah berperang di jalan Allah, kalian malah merasa berat dan condong ke bumi? Apakah engkau lebih suka kehidupan dunia daripada akhirat? Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat itu kecuali sedikit saja. Jika kalian tidak keluar berperang, Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih serta mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan kalian sama sekali tidak bisa membahayakan mereka. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 38-39)


Dan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Keluarlah berperang, baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah di jalan Allah dengan harta dan nyawa kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)


• Wahai penuntut ilmu, ketahuilah bahwa keberanian memiliki andil yang besar ketika itu adalah pada diri orang yang berilmu. Maka, jadilah orang yang berani menyatakan kebenaran apa adanya, jangan berkompromi dengan siapapun. Ketahuilah –semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menjagamu dari apa saja yang tidak menyenangkan—bahwa sekedar menyembunyikan kebenaran dan diam tidak menyampaikannya merupakan perbuatan yang pelakunya mendapat ancaman di sisi Allah. Bahkan ia divonis mendapatkan laknat, La Haula wa La quwwata illaa bil-Lah. Lantas, bagaimanakah dengan orang yang mengucapkan kebatilan?

Dan aku ingatkan engkau dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Dan ingatlah ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang diberi kitab: Hendaklah kalian menyampaikannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya. Lantas mereka membuang janji tersebut dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Sungguh, teramat buruklah apa yang mereka beli itu.” (QS. Ali Imron: 187)


Kami telah menyaksikan sendiri, orang-orang yang Allah anugerahi ilmu dan hafalan, dan terkenal di kalangan manusia, tetapi mereka terjangkiti sifat pengecut, lemah nyali, dan penakut. Lantas, apa gunanya ilmu jika tidak diamalkan, padahal banyak sekali orang telah tersesat? Sungguh benarlah apa

yang disabdakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:
“Sesuatu yang paling kukhawatirkan menimpa kalian adalah, imam-imam yang menyesatkan.”


• Wahai penuntut ilmu, janganlah engkau masuk ke tempat para penguasa. Sebab terdapat hadits shohih dari Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wa salam, bahwa beliau bersabda,
“Barangsiapa masuk ke penguasa, maka ia telah tertimpa fitnah.”


Menurutmu, wahai penuntut ilmu, bagaimana kalau penguasa itu adalah thoghut yang bengis dan mengendalikan manusia dengan kekuatan, menjauhi syariat Allah, dan membantu orang-orang Kristen dalam memerangi kaum muslimin di mana-mana? Mereka juga menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai hukum yang berlaku pada leher-leher manusia serta menghapuskan hukum hudud… dan masih banyak lagi perbuatan murtad dan zindiq lain yang mereka lakukan.

Maka, waspadailah mereka. Waspadailah orang yang duduk dengan mereka, baik dari kalangan ulama dan para pejabat-pejabat penguasa, yang telah menajisi ilmunya dengan duduk bersama musuh-musuh Allah. Bahkan ikut serta dengan mereka dalam mengkaburkan berbagai fakta, menyesatkan rakyat dan menghias-hias kebatilan.


• Wahai penuntut ilmu, jangan jadi orang-orang yang memperhatikan urusan para pemuda dalam halaqoh-halaqoh, acara-acara liburan, mukhoyyam (camping), atau dauroh-dauroh, tetapi kemudian meracuni pemikiran mereka sehingga mereka tidak mau pergi berjihad di jalan Allah, atau mengakibatkan mereka tidak mau mengatakan kebenaran lantaran suatu alasan atau alasan lain, atau mengakibatkan mereka tidak menyebut orang dzalim: “Hai Dzalim,” atau orang kafir: “Hai kafir.”


Aku nasehati engkau, jika engkau termasuk ketua sekelompok pemuda, kobarkanlah semangat mereka untuk berperang. Baik di sini atau di mana saja. Terangkanlah Islam apa adanya, lalu jelaskan mengapa bisa begitu. Kalau engkau tidak mampu seperti ini, berikan kesempatan orang lain untuk menempati posisimu dan jangan menjadi orang-orang mukhodzil (pelemah semangat) tanpa engkau sadari. Demi Allah, engkau mati dengan mempertanggung jawabkan dirimu sendiri, itu lebih baik daripada engkau mati tetapi akan dimintai pertanggung jawaban tentang para pemuda Islam di hadapan Allah kelak. Baik karena mengkaburkan kebenaran kepada mereka, atau menghalangi mereka dari berjihad. Wa la haula wa la quwwata illa billah.

Aku ingatkan engkau dengan sikap dari suri tauladanmu, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam, ketika beliau bertawaf di Ka‘bah sendirian, ketika beliau masih dalam kondisi lemah, ketika kaum musyrikin mengejek dan mengolok-olok beliau, beliau mengatakan: “Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku datang kepada kalian dengan sembelih,” Kisah ini ada dalam Musnad Imam Ahmad.


• Wahai penuntut ilmu, secara ringkas saya tegaskan kepadamu: Jika engkau benar-benar meneladani Nabimu, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam, dalam setiap hal, engkau terus terang di dalam melakukan dan menerangkannya, maka pasti engkau akan diuji dengan bala’. Bala’ itu turun sesuai dengan kadar keimanan sebagaimana hal itu diberitakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami beriman, sementara mereka tidak diuji.” [QS. Al-Ankabut: 2]


Ketahuilah, suatu saat nanti engkau akan dijauhi oleh para penuntut ilmu yang lain, oleh para ulama dan tokoh-tokoh penguasa. Engkau akan dikucilkan, dicaci dan dicela. Engkau akan dikatakan sebagai Khowarij, dan kata-kata semisal yang hari ini dituduhkan kepada para da’I Tauhid yang tertindas. Kalau engkau mengalaminya, bersabarlah. Sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan, sesungguhnya dalam kesusahan ada kemudahan.


• Wahai penuntut ilmu, waspadailah para Du’at mengajak hidup berdampingan bersama orang-orang kafir. Hati-hatilah terhadap mereka yang mematahkan semangat Jihad lagi kalah di hadapan musuh-musuh Allah. Hati-hatilah dengan mereka. Jangan terpedaya dengan kata-kata manis bercampur racun mematikan yang mereka lontarkan, jangan terpedaya dengan materi-materi pelajaran yang mereka sampaikan, jangan terpedaya dengan orang-orang yang hadir dalam majelis mereka. Hati-hatilah terhadap mereka, sebab minimal kita harus sikapi mereka sebagaimana kita bersikap terhadap ahli bid‘ah. Para salafus sholeh kita telah mengingatkan kita agar menjauhi ahli bid‘ah. Sebagai contoh, bacalah kitab Al-Bida‘ tulisan Ibnu Widhoh.


• Wahai penuntut ilmu, camkan selalu pandanganmu kepada kitab Rabb kita dan terhadap sunnah Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wa salam, renungkanlah dengan baik. Sebab dalam keduanya terdapat banyak kebaikan.


• Wahai penuntut ilmu, berusahalah sebisa mungkin untuk mendialogkan berbagai permasalahan dengan ikhwan-ikhwanmu yang lain. Sebab sesungguhnya kemantaban dalam menguasai berbagai persoalan adalah dengan berdialog.


• Wahai penuntut ilmu, tetapkanlah waktu yang engkau khususkan untuk menyendiri dengan Rabbmu, yang di sana engkau membaca kalam-Nya, bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Karena doa termasuk ibadah terbesar, sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat shohih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam,
“Doa adalah ibadah itu sendiri.”


• Wahai penuntut ilmu, jauhilah ulama suu’, janganlah bermajelis atau berhalaqoh bersama mereka. Karena mereka adalah orang-orang jahat dan sesat. Mereka mengkaburkan agama Islam di hadapan kaum muslimin, Mereka juga menyesatkan masyarakat, dan ikut serta bersama para penguasa [thoghut] dalam menjual tanah air dan tempat suci kaum muslimin.


Ini dia Al-Quds , semenjak 50 tahun lebih berada dalam cengkraman yahudi, apakah yang telah diperbuat para ulama penguasa tersebut? Lihat itu Hai’atu Kibaril Ulama atau Al-Lajnah Ad-Daimah, siapakah yang mendirikannya, siapakah yang memilih dan mengangkat mereka? Sesungguhnya Mereka adalah para penguasa pengkhianat.


• Wahai penuntut ilmu, para ulama yang banyak dijadikan rujukan oleh para pemuda itu, ada yang terang-terangan mengatakan bahwasanya tidak ada permusuhan antara kaum muslimin dengan umat yang lain. Ada juga yang pindah ke negeri orang-orang nashrani untuk mempersatukan anggota parlemen dan di sana disambut oleh wanita-wanita pelacur Eropa, seolah tak terjadi apa-apa. Yang lain berkata: andai orang-orang pergi berjihad maka siapa yang tinggal dan yang menjaga toko-toko. Ada yang lancang bersumpah atas nama Allah ‘Azza wa Jalla seraya berkata: Bahwa siapa yang terbunuh di Afghanistan, tapi ia ke sana tanpa seizin waliyyul khamri –maksudnya pemerintah yang membolehkan beredarnya khomer—, maka ia bukan syahid. Sedangkan Pemimpin dan sesepuh mereka [ mufti saudi-pen] mengatakan bahwa Amerika adalah orang-orang yang tak berdosa. Yang lain mengatakan, mendonor darah kepada orang-orang Amerika adalah boleh hukumnya. Dan yang lain… dan yang lain… dan seterusnya…

Ulama lain, ada yang berlomba-lomba berpose bersama para thoghut setiap pekan.
Sungguh, kami telah mendatangi mereka senior-senior mereka yang juga ulama besar, kami nasehati mereka, kami ajak dialog dan kami berbincang-bincang dengan mereka. Akan tetapi, la haula wa la quwwata illa billah, tidak ada faedahnya.


Oleh karena itu, wahai penuntut ilmu, aku bertanya kepadamu atas nama Allah, apakah ini keadaan ulama Islam, atau ini adalah keadaan para boneka thoghut dan para penjilat penguasa???


Terakhir kalinya, aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kalimat-kalimat ini tadi bermanfaat bagi pembacanya, serta menjadikannya diterima di bumi. Aku juga memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, agar menganugerahi dirimu ilmu yang terang dan kemampuan untuk mengamalkannya, semoga engkau diberkahi selalu di manapun engkau berada dan Allah menjadikanmu termasuk golongan orang yang menyuarakan Al-Haq.


Sebagai penutup, aku memohon agar Allah memberiku kesyahidan, yang dengan itu Dia akan ridho dan tertawa kepada kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa, Mahapemurah dan Mahadermawan. Dan doa terakhir kami, Anil hamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.


Penulis: Syaikh Sulthan Al-Utaybi
Selesai pada malam Jum‘at, 28/ 7/ 1424 H

Penterjemah: Abu Sulaiman

CANTIKKU HANYA UNTUK SUAMIKU

Mempercantik diri bagiku sebagai seorang wanita adalah lumrah, sekalipun Allah telah menciptakan kaumku, Binti Hawa, dalam bentuk yang cantik lagi menarik, yang aku maksud dengan mempercantik diri adalah upaya untuk mempertahankan kecantikanku itu sebagai sebuah anugerah dari sang Maha Kuasa. Tetapi dalam hal ini aku tidak berlebih-lebihan dan memaksakan diri, wajar dan natural saja, aku tidak merasa perlu ke salon karena hal itu perlu ongkos yang kalau disedekahkan akan lebih berguna, atau buat beli jajan anak-anak saja, biar mereka lebih gembira, di samping itu di sana aku tidak merasa aman dari pandangan laki-laki asing, sekalipun salon tersebut katanya adalah salon khusus muslimah, tetapi siapa yang menjamin, aku teringat sebuah sabda Rasulullah saw yang intinya bahwa wanita manapun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya maka dia telah mencabik-cabik perlindungan Allah atas dirinya, naudzubillah, aku tidak mau hal itu menimpaku.

Aku merasa cukup dengan upayaku sendiri, caraku sendiri yang aku baca dari beberapa majalah wanita Islam atau tabloid, cara-cara alami dan natural dalam merawat kecantikan, misalnya dengan membuat masker dari buah-buahan: bengkoang, mentimun, alpukat dan buah-buah segar lainnya, aku melakukan itu secara berkala untuk untuk menjaga agar kulitku tetap segar, khususnya wajah agar tetap kencang dan menawan. Aku juga rajin membuat jus buah dan meminumnya, plus sayuran hijau yang kata ahli kesehatan bermanfaat bagi tubuh.

Bagiku menjaga kecantikan berarti menjaga kesehatan, mana bisa cantik kalau tidak sehat, ada satu rahasia yang ingin aku bagi kepada sesama Binti Hawa, aku berusaha menjaga kesehatan dengan selalu minum madu secara rutin, hampir tiada hari tanpa minum madu dan alhmadulillah aku tetap sehat, aku teringat sebuah ayat dalam al-Qur`an yang menyatakan bahwa madu adalah kesembuhan, dan aku pun teringat bahwa Rasulullah saw mengajak kaum muslimin untuk mencari kesembuhan pada madu, inilah yang memotivasiku untuk selalu minum madu.

Aku sadar bahwa cantik itu bersih, maka aku berusaha menjaga kebersihan tubuhku dengan mandi mininal pagi dan sore, memperhatikan daerah-daerah kotor dengan menggosoknya sebersih-bersihnya, kebersihan rambut aku jaga setiap dua atau tiga hari sekali, kebersihan mulut aku lakukan dengan berkumur pada saat berwudhu dan sebelum beranjak tidur sekaligus berwudhu dan sesudah bangun dari tidur dengan menggosok gigi. Kedua tangan dan kedua kakiku selalu aku cuci selesai melakukan atau memegang sesuatu, kuku-kuku keduanya tidak luput dari perhatianku, aku tidak suka merawat kuku tangan seperti yang dilakukan oleh sebagian kaumku sehingga ia panjang seperti kuku binatang buas, selain bisa menjadi sarang kuman juga bisa menghalangiku untuk melakukan beberapa aktifitas rumahku seperti mencuci dan lainnya, lebih dari semua itu bahwa yang demikian itu tidak sejalan dengan fitrah yang digariskan oleh Rasulullah saw.

Aku tahu bahwa cantik itu tidak sejalan dengan bau tubuh yang tidak sedap, untuk menjaga ini, selain aku mandi dengan benar secara rutin, aku juga membuang sarang bau tidak sedap pada tubuh, ketiak yang menjadi salah satu biang bau kurang sedap selalu menjadi perhatianku dengan membuang bulu yang tumbuh di sana, sebagai muslimah aku tahu Nabi saw menganjurkan hal itu, terkadang aku memakai satu dua semprotan pengharum badan selesai mandi dan aku yakin tidak akan keluar rumah, tetapi kalau aku yakin akan keluar rumah karena ada hajat untuk itu maka aku tidak memakainya, karena aku tahu agamaku melarangku sebagai wanita untuk meninggalkan rumahnya dalam keadaan tubuh berbau harum, aku tidak mau menjadi pemicu fitnah bagi kaum laki-laki.

Pakaian di rumah juga aku perhatikan, aku tidak boleh memakai baju yang kotor atau berbau apek, sekalipun koleksi baju rumahku tidak banyak, namun aku selalu menjaga agar bajuku tetap segar dan bersih, untuk urusan yang satu ini aku lebih cenderung kepada suami, maksudku pada saat membeli baju rumah, pendapat suamiku adalah nomor satu, jika dia bilang suka maka aku tersenyum mengiyakan, sebaliknya kalau dia tidak suka maka aku pun meninggalkannya, pada saat aku memakai sebuah baju, lalu suamiku memintaku untuk menggantinya dengan baju yang lain, maka aku akan menggantinya sekalipun ia masih bersih, toh tetap bisa dipakai ketika dia tidak rumah, aku tahu ada baju favorit bagi suamiku, dia paling suka kalau aku memakai baju tertentu, maka aku bersuaha sesering mungkin memakainya.

Aku juga tahu bahwa semua itu adalah kecantikan lahir, sekalipun penting namun tidak kalah dengannya adalah kecantikan sisi lain yaitu melalui akhlak mulia dan ilmu agama. Di mana cantiknya pada saat akhlak buruk menghiasi diri: ucapan dusta, ghibah, namimah, hasad, tamak dan akhlak buruk lainnya? Di mana cantiknya sebagai wanita muslimah kalau ternyata tidak mengerti perkara-perkara dasar dalam agamanya? Oleh karena itu aku selalu berusaha untuk menghiasi diri dengan akhlak dan budi pekerti mulia, plus upaya menambah ilmu agama melalu membaca, bertanya dan menghadiri majlis ilmu.

Satu hal yang ingin aku katakan kepada saudari-saudariku, bahwa aku melakukan semua itu adalah demi suamiku dan hanya untuk suamiku, ya cantikku memang hanya untukmu suamiku seorang, aku ingin tulus kepada suamiku, aku tidak ingin membagi sedikit pun dari kecantikanku kepada orang lain karena hal itu tidak patut, aku dan diriku hanya untuknya, maka demikian pula kecantikanku. Aku tidak ingin mengikuti sebagain wanita yang justru ingin terlihat cantik dengan berdandan habis manakala hendak keluar rumah untuk hajat ini dan itu, para wanita yang bersolek bukan untuk suaminya, aku melihat mereka adalah para istri yang tidak tulus kepada suami mereka, karena mereka telah membagi apa yang seharusnya menjadi hak murni suami kepada orang lain, kasihan suami mereka, tetapi bagaimana lagi, yang terjadi justru suami mereka memang mendiamkan atau mengizinkan. Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)

Selasa, 24 November 2009

Saya adalah TERORIS, FUNDAMENTAL, RADIKAL dan FANATIK AGAMA!

bila yg disebut TERORIS adalah,
mereka yg membela Mujahidin dan kaum Muslimin,,
mereka yg membela Kesucian Agama dan Kehormatan Umatnya,,
maka, YA SAYA ADALAH SEORANG TERORIS!!

mengapa harus menjadi banci bila dicap sebagai TERORIS,, bila pasukan kuffar dgn biadab melakukan tindak keperibinatangan kpd saudara-saudara kita tanpa belas kasihan secara terang-terangan di berbagai belahan dunia,,??!!!

bila yg disebut FUNDAMENTAL adalah,
mereka yg melawan kekafiran berpikir ala liberal,,
mereka yg memusuhi antek-antek dajjal,,
maka, YA SAYA ADALAH SEORANG FUNDAMENTAL!!

mengapa harus menjadi pengecut bila dicap sebagai FUNDAMENTAL,, kalau mereka yg idiot saja berani dgn lantang menamakan diri mereka liberal dgn topeng murahan sebagai intelektual gombal bahkan dgn kekafiran berfikirnya dgn lancang menghina ‘ulama, menghina Rosul saw yg mulia bahkan ingin merevisi Alqur-an,,??!!!

bila yg disebut RADIKAL adalah,
mereka yg berani melawan kemunkaran,,
mereka yg siap Jihad Pemikiran sampai turun di medan juang,,
maka, YA SAYA ADALAH SEORANG RADIKAL!!

mengapa harus menjadi pecundang bila dicap sebagai RADIKAL,, kalau orang-orang idiot edan dgn congkaknya berani mencetuskan fiqh lintas agama yg terbantahkan secara mutlak dgn logika sehat apalagi dalil-dalil dlm agama,,??!!!

bila yg disebut FANATIK AGAMA adalah,
mereka yg mencintai Alqur-an dan Assunnah,,
mereka yg mencoba belajar dan mengamalkannya,,
maka, YA SAYA ADALAH SEORANG FANATIK AGAMA!!

mengapa harus terlalu takut dicap sebagai FANATIK AGAMA,, bila para pendosa dgn bangga menjalani ladang-ladang bisnis kemaksiatan yg cabangnya dimana-mana,,??!!!


maka, inilah saya,,
saya adalah seorang TERORIS, FUNDAMENTAL, RADIKAL dan FANATIK AGAMA!!
ADAKAH YANG SALAH DENGAN SAYA???

Selasa, 07 April 2009

Jangan percaya demokrasi,, belajar dari kegagalan FIS (Front Islamique de Salut)

Sebuah pengalaman berharga yg patut kita ambil ibrahnya,t’kait dgn perjuangan Islam lwat parlemen adalah FIS di kancah demokrasi Aljazair awal thn 90-an.Kkecewaan publik t’hdp kinerja pemerintah nasionalis kala itu m’awali kelahiran FIS sbg organisasi yg m’perjuangkan tegaknya khilafah Islam. Era keterbukaan kala itu m’berikan peluang bg FIS untuk ikut serta dalam pemilu lokal.Pd pemilihan putaran pertama FIS b’hasil memperoleh suara mayoritas. FIS kmbali mengumpulkan suara terbanyak di pemilu putaran kedua & b’hasil menempatkan mayoritas wakilnya di parlemen. Namun situasi ini m’buat para pengawal demokrasi dlm hal ini Perancis,mrasa bahwa FIS adlh ancaman serius bagi eksistensi demokrasi itu sendiri. Akhirnya pihak militer (antek-antek Perancis) menganulir hasil pemilu & m’berangus sluruh jaringan FIS hingga akhirnya FIS ditetapkan sbg organisasi terlarang tahun 1992. sebuah inkonsistensi yg diperagakan sendiri oleh perumus demokrasi. Apa yg menimpa FIS kiranya cukup memberikan pelajaran bagi mereka yang “NGOTOT” menempuh jalur ini.Bahkan FIS buru-buru diberangus sebelum sempat mencicipi kursi parlemen. Kegagalan ini berawal dr metode yg salah dalam menegakkan Islam. Sampai kapanpun Islam tidak akan pernah berhasil diperjuangkan lewat jalur ini, karena Islam dan demokrasi b’tentangan dan berdiri sendiri-sendiri. beberapa alasan yg hendaknya kita renungkan : 1. Islam adalah agama Allah yg diturunkan bg hamba-Nya.Islam m’punyai tujuan-tujuan & metode-metode khusus dlm tarafnya sbg dien rabbani. Sdngkan tujuan Islam tdklah dicapai kecuali melalui perantara syar’i yg telah ditetapkan olh Alqur’an N Sunnah. Adapun ketika tujuan syar’i dicapai melalui metode selain metode syar’i yg benar, maka ini adalah sebuah kesesatan dan penyimpangan dr kebenaran. 2.Kemenangan bagi mukminin di dunia mempunyai syarat, yaitu Tauhid dan menjauhi syirik dan smua yg berpotensi menimbulkannya.Firman Allah : “Dan Allah tlh berjanji kpd orang-orang yg beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh bhw Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mreka berkuasa dimuka bumi. sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yg telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada m’persekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yg tetap kafir sesudah janji itu,maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (An Nur : 55)..Sedang demokrasi adalah pemikiran yg identik dgn unsur kesyirikan,b’diri di atas kesyirikan yg menjadikan manusia sbg sumber pembuatan syariat,vonis halal dan haram. Dengan keadaan ini bagaimana mungkin pertolongan Allah datang sedangkan pelakunya berkubang dalam kesyirikan dan kekufuran. 3.Sebab kegagalan kaum kaum muslimin memperjuangkan Islam lewat jalur perlemen adalah perseteruan abadi antara haq dan bathil sejak munculnya kehidupan di dunia ini.Orang kafir baik dr sgala bentuk firqah dan mazhab tdk akan pernah membiarkan berdirinya kekuasaan. Terlebih di zaman skrg yg semakin dekatnya dengan akhir zaman,sebagaimana berita dari Rasulullah bahwa Islam dtg dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya.Dan juga sedikitnya jumlah kaum muslimin yg tetap konsisten dengan ajaran Islam semakin memperjelas betapa tingginya dinding pemisah antara Islam dan demokrasi. Bagaimana mungkin jumlah yg sedikit ini akan memenangkan suara yg mayoritas dikuasai orang kafir.
inilah realita yg terjadi di dalam sistem demokrasi yg tdk memungkinkan Islam untuk mengatur di dalamnya. Karena asas sekularitas begitu kental dlm prinsip demokrasi. Kalaupun mreka berhasil menguasai parlemen lantas bertekad menerapkan hukum Islam,timbul pertanyaan. Kemudian hukum Islam yg bagaimana yg akan mreka terapkan?? Yang sesuai dengan kitab wa sunnah spt pd zaman Nabi dulu,atau hukum Islam yg bisa mengakomodir seluruh pemahaman yg ada pada kelompok-kelompok (partai) yg bersatu???

Sebenarnya kegagalan perjuangan Islam lewat demokrasi tidak hanya terjadi di Aljazair saja.Tengoklah partai Ikhwanul Muslimin di Yordania, partai Refah di Turki dan terakhir Hammas di Palestina. Hammas walaupun menang scara mutlak atas rivalnya Fatah, ternyata tidak mampu memerintah otoritas Palestina secara keseluruhan.Barat sendiri mengingkari kemenangan Hammas yg scara sah menempuh jalur pemilu buatan mreka. Hal ini wajar dan logis karena barat tdk mungkin merelakan kemenangan Islam,sedang Islam sendiri scara frontal bertentangan dengan sistem demokrasi dan beresiko menghancurkan sistem ini.
Suatu ketika pernah Sayyid Qutb ditemui seorang utusan dr Sudan yg mengisahkan kemenangan kaum muslimin di sana ditandai dengan tumbangnya rezim militer. Dan dimulainya babak baru penerapan syariat Islam yg mreka tempuh melalui jalur pemilu.Mendengar penuturan ikhwan Sudan ini,Sayyid Qutb berkata : “ Bahwa penegakkan syariat Islam di belahan bumi manapun sekali-kali tdak akan pernah tercapai melalui jalan ini (demokrasi), dan tidak akan tercapai melainkan melalui manhaj yg lambat,panjang selalu bertujuan pembinaan organisasi yg kuat dan bukan semata-mata tujuan puncak (khilafah).
Dimulai dari penanaman aqidah yg benar dan tarbiyah Islamiyah akhlaqiyah. Dan jalan ini yg terkesan lambat dan panjang sebenarnya adalah jalan terdekat dan tercepat di antara jalan-jalan yg lain. Inilah yg seharusnya mulai direnungkan kembali oleh para aktivis Islam negri ini yg terlanjur berkubang dalam lumpur demokrasi. Sudah benarkah jalan mereka atau ada tendensi lain yg menggelayuti pikiran mereka yg berawal dr dakwah namun berakhir dengan UPAH??? Ingatlah kita akan sebuah perkataan : “Seorang Mukmin yg cerdas dan pandai tidak akan terjatuh ke sebuah lubang yg sama dua kali”. adapun mreka yg berjuang lewat demokrasi telah JATUH BERPULUH-PULUH KALI DAN BELUM JUGA MENGAMBIL PELAJARAN DARINYA…
Wallahu Musta’an..

Minggu, 29 Maret 2009

Menggugat Demokrasi - Ulama-Ulama Yang Mulia Telah Berfatwa Tentang Disyariatkannya Pemilu!

Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-ulama-ulama-yang-mulia-telah-berfatwa-tentang-disyariatkannya-pemilu/

Di antara orang-orang yang pro demokrasi dan pro pemilu ada yang mengatakan : “Ulama-ulama Ahlus Sunnah yang mulia telah berfatwa tentang disyariatkannya pemilu. Para ulama tersebut bukan orang-orang hizbiyyun. Di antara mereka ada Syaikh Nashiruddin Al Albani –ahli hadits zaman ini–, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin rahimahumullah. Lantas apakah kita golongkan mereka kepada yang telah lalu?”
Jawabannya tentu tidak karena mereka adalah para ulama yang mulia. Mereka adalah ulama kita, pemimpin kita dan pemimpin dakwah yang diberkahi ini. Mereka para pelindung Islam, kami tidak mempelajari (Islam) melainkan dengan bimbingan mereka. Mereka bukan hizbiyyun, ini mustahil. Bahkan mereka senantiasa memperingatkan manusia dari bahaya hizbiyyah dan tidaklah kami selamat dari hizbiyyah kecuali dengan nasihat-nasihat mereka setelah taufiq dari Allah. Seperti Syaikh yang mulia Muhaddits negeri Yaman, Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah yang mengharamkan hizbiyyah. Kitab-kitab dan kaset-kaset mereka penuh dengan peringatan dari hizbiyyah. Tidak ada pada diri mereka bagi para penganut hizbiyyah sedikitpun telah untuk menegakkan dan menggolkan apa yang mereka rencanakan dan menipu dengannya kaum Muslimin. Khususnya para syabab (pemuda) yang kuat dalam berpegang dengan agamanya serta ridha dengan kebenaran.
Adapun berkenaan dengan fatwa para ulama tersebut, fatwa-fatwa mereka bersyarat dengan batasan-batasan syar’i. Di antaranya apabila maslahat yang besar dapat dicapai atau dapat menolak mafsadat yang besar dengan melakukan mafsadat yang kecil dengan tetap menjaga batasan-batasan dalam kaidah ini. Akan tetapi da’i-da’i pemilu tidaklah menjaga batasan-batasan tersebut.
Catatan :Kenapa kita dapati orang-orang hizbiyyun tidak berpegang dengan fatwa ulama- ulama mereka sendiri (ulama hizbi) yang berfatwa tentang disyariatkannya pemilu? Dan malah berpegang dengan fatwa ulama Ahlus Sunnah seperti Syaikh Al Albani, Syaikh Bin Baz, dan Ibnu Utsaimin rahimahumullah?
Jawabannya :Sesungguhnya ulama-ulama hizbiyyun di berbagai negara Muslim telah tenggelam dalam fanatik golongan (tahazzub). Sesungguhnya fanatik golongan ini adalah penyakit yang mematikan. Dengan sebab itulah kaum Muslimin tidak puas dengan fatwa mereka karena mereka seringkali mengaburkan masalah-masalah agama. Mereka memandang bahwa ulama Ahlus Sunnah sudah semestinya berhadapan dengan hizbiyyah. Begitulah di antara bentuk talbis (pengkaburan) yang mereka lakukan. Mereka memakai fatwa ulama Ahlus Sunnah tatkala mereka terdesak.
Apabila mereka merasa sudah tidak membutuhkan hal itu maka mereka pun berujar bahwa ulama Ahlus Sunnah adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti fiqhul waqi’ (fikih realitas) dan berbagai tuduhan lainnya. Sekadar contoh ketika Al Walid Syaikh Abdul Aziz bin Baz berfatwa dalam masalah syarat dan ketentuan mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang yahudi maka mereka tak henti- hentinya menentang beliau. Siapakah yang mampu membungkam mereka? Siapa yang bisa membuat mereka puas? Akhirnya masing-masing mereka mengeluarkan fatwa, baik yang berilmu maupun yang tidak berilmu. Seakan-akan Syaikh bin Baz rahimahullah adalah sosok yang tidak mempunyai ilmu dan pengalaman. Maka khutbah-khutbah Jumat pun dijadikan wahana untuk membombardir fatwa tersebut.
Alhamdulillah, ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah senantiasa berprasangka baik dan bersabar kepada manusia. Allah Maha Mengetahui antara orang yang membuat kebaikan dan yang membuat kerusakan.
Demikian juga bila mereka konsisten dengan fatwa Syaikh Al Albani, Syaikh bin Baz dan Syaikh ibnu Utsaimin maka mereka harus menerima fatwa mereka dalam mengharamkan tahazzub (fanatik golongan), maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, menyembelih untuk selain Allah dan taqlid kepada orang-orang yahudi dan nashara serta yang semisalnya dari hal-hal yang diharamkan yang mereka masih melakukannya. La haula wala quwwata illa billah.
Syarat-syarat mempergunakan kaidah “melakukan kerusakan kecil demi menangkal kerusakan yang besar”.
1. Kemaslahatan yang diharapkan memang benar adanya bukan sesuatu yang masih mengambang. Kita tidak boleh melakukan suatu kerusakan yang nyata dengan alasan untuk menarik kemaslahatan yang belum pasti. Seandainya sistem demokrasi memang menopang Islam dan syariatnya dengan sebenar-benarnya pastilah (orang-orang partai) di Mesir, Syam, Al Jazair, Pakistan, Turki atau di negeri lain di muka bumi telah sukses semenjak enam puluh tahun yang lalu.
2. Kemaslahatan yang diharapkan lebih besar daripada kerusakan yang dilakukan, itu dengan pemahaman ulama yang kokoh ilmunya. Bukan dengan pemahaman orang-orang yang tenggelam dalam fanatik hizbiyyah atau orang-orang pergerakan atau juga para pengamat partai.Orang yang mengetahui bahwa di antara kerusakan demokrasi yang banyak adalah penghapusan syariat Islam dan tidak butuh kepada para Rasul karena halal dan haram oleh mereka ditentukan dengan pendapat mayoritas bukan dengan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Orang yang mengetahui bahwa di antara kerusakan demokrasi adalah melenyapkan pondasi Al Wala’ wal Bara’ karena agama, menyamarkan akidah yang gamblang demi merekrut hati dan suara serta meraup kursi parlemen. Orang yang mengetahui hal ini tidak akan mengatakan bahwa masuk ke dalam parlemen lebih ringan bahayanya bahkan yang benar adalah sebaliknya. Kalaulah kita terima bahwa itu nama saja (antara bahaya dan manfaat) maka (kaidah yang harus dipakai adalah) menolak bahaya dikedepankan daripada mengambil kemaslahatan.
3. Hendaknya tidak ada jalan untuk menggapai kemaslahatan tersebut kecuali dengan melakukan kerusakan ini. Seandainya kita mengatakan bahwa dalam perkara ini tidak ada jalan lain (kecuali dengan melakukan demokrasi) berarti kita telah menvonis manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak layak pakai untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi.
Adapun orang-orang yang mengikuti kebenaran mengetahui bahwa metode demokrasi dan kehidupan multi-partai tidak menambah apa-apa kecuali hanya memperlemah saja. Karena sebab itulah musuh-musuh Islam dari kalangan yahudi, nashara dan lain-lainnya terus berupaya melestarikan berhala ini sepanjang zaman. Dan Allah Maha Mengetahui di balik semua itu.
(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)

Menggugat Demokrasi - Dengan Ikut Pemilu Berarti Memilih Bahaya Yang Paling Ringan!

Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-dengan-ikut-pemilu-berarti-memilih-bahaya-yang-paling-ringan/

Mereka mengatakan : “Kami mengakui bahwa pemilu ini buruk akan tetapi keikutsertaan kami adalah dalam rangka mengambil yang paling ringan dari dua mafsadat dan demi mewujudkan kemaslahatan yang lebih besar.”
Kami katakan, ikut serta dalam majlis perwakilan. Menurut kalian itulah yang paling ringan bahayanya. Mari kita lihat apa yang dimaksud dengan bahaya yang ringan menurut mereka.
Pertanyaan pertama, siapakah hakim dalam majlis perwakilan tersebut, Allah-kah ataukah manusia? Jawabannya, manusia tentu saja.
Pertanyaan kedua, apabila hukum manusia yang berkuasa di majlis perwakilan, apakah yang seperti ini tergolong syirik kecil ataukah syirik besar? Jawabannya, ini syirik besar. Kenapa syirik besar? Karena hukum Allah Azza wa Jalla diabaikan dan di sana ada orang-orang yang tidak mengakui hukum Allah akan tetapi hukum-hukum menurut mereka pada suara terbanyak. Dan telah berlalu bahwa hakim dalam majelis perwakilan adalah manusia bahkan hukum Allah Azza wa Jalla ditolak dan bisa digugat dan ini tidak diragukan lagi adalah syirik besar. Apabila ini adalah kesyirikan berupa penentangan terhadap syariat Allah lantas masih adakah dosa yang lebih besar daripada kesyirikan dan kekufuran ini? Sebagaimana Allah firmankan :“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’ : 48)
Karena syirik adalah dosa yang paling besar maka Allah tidak mengampuni dosa pelakunya bila ia mati dalam keadaan demikian.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah ditanya : “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab : “Yaitu kamu menjadikan bagi Allah tandingan padahal Dia yang telah menciptakan kamu.” Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditanya lagi setelah itu maka beliau menjawab : “Kamu membunuh anakmu sendiri karena khawatir ia ikut makan bersamamu (takut melarat) … .” (Muttafaq ‘alaih dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu)
Jelaslah bagi kita bahwa mereka pada beberapa kondisi telah melakukan tindak kesyirikan yang besar. Dan bukanlah bahaya yang paling ringan.Allah Azza wa Jalla telah berfirman :“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpin, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al Maidah : 51)
Ini adalah hukum Allah Azza wa Jalla terhadap orang-orang yang loyal kepada orang-orang yahudi dan nashara.
Allah Azza wa Jalla berfirman :“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk beserta mereka sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An Nisa’ : 140)Allah Ta’ala tidak mengatakan, maa ‘alaikum min syai’un (kalian tidak terkena resiko apapun) dan juga tidak mengatakan : “Kecuali partai-partai Islam, sesungguhnya hal itu disyariatkan bagi mereka.”
Kami katakan kepada mereka, apakah mereka telah bertanya kepada ulama tentang mafsadat yang mereka pilih? Sudahkah mereka menjelaskan kepada para ulama hakikat perbuatan mereka ini? Ataukah mereka menipu ulama? Kalau demikian, kaidah ini telah digunakan bukan pada tempatnya.
Memang benar bahwa sebagian perbuatan buruk boleh dilakukan untuk mewujudkan kemaslahatan yang besar seperti yang dilakukan para shahabat tatkala mereka melihat rambut kemaluan anak-anak yahudi Bani Quraizhah dengan tujuan untuk mengetahui antara yang sudah tumbuh rambutnya dan yang belum tumbuh. Jika rambutnya sudah tumbuh maka dibunuh dan jika belum maka tidak dibunuh.
Namun telah jelas bagi kita bahwa kaidah tersebut tidak diterapkan sesuai dengan hakikatnya. Inilah musibah partai-partai Islam, mereka menerapkan sesuai dengan selera hawa nafsu sendiri sehingga mereka diharamkan (dijauhkan) dari ittiba’ (mengikuti sunnah). Wa Billahit Taufiq.
Kemudian kemaslahatan besar apa yang telah mereka wujudkan?Kita telah mengetahui kejahatan yang mereka terjerumus ke dalamnya. kemudian kita penasaran dengan kemaslahatan yang mereka maksud. Karena mereka senantiasa berujar bahwa mereka akan mewujudkan kemaslahatan yang besar.Jawabannya : Nyatanya sejak enam puluh tahun yang lalu telah menjadi sesuatu yang tak terbantahkan bahwa mereka tidak mewujudkan satu pun kemaslahatan untuk Islam.
Adapun ucapan mereka bahwa mereka berkecimpung di arena pemilu dalam rangka menempuh sesuatu yang bahayanya paling ringan dan dalam rangka mendirikan negara Islam dan menerapkan syariat Islam, semua itu slogan kosong semata.
Bisakah syariat ditegakkan sementara masyarakat dalam keadaan tidak siap untuk menerimanya?Jawabannya, tidak! Perhatikanlah isi hadits riwayat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu tentang kisah Hiraqlius. Tatkala Abu Sufyan memberitahukan kepadanya tentang sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan dakwahnya lantas datanglah surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui pembesar negeri Bushra. Setelah membaca surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tersebut dia — Hiraqlius– mengatakan :
“Wahai sekalian rakyat Roma, apakah kalian ingin keadaan bahagia dan teratur serta kerajaan kalian stabil? Lihatlah Nabi ini.” Maka rakyatnya pun lari dengan sangat kencang namun pintu-pintu telah tertutup. Lalu Hiraqlius memanggil lagi dan mengatakan : “Saya melakukan hal itu hanya untuk mengetahui kekokohan kalian terhadap agama kalian.” Maka rakyatnya pun sujud kepadanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Meski Hiraqlius adalah seorang raja yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan, ia tidak mampu memaksa rakyatnya untuk masuk agama Islam. Begitu pula Raja Najasyi setelah masuk Islam dan turun ayat :“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad) kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran).” (QS. Al Maidah : 83)
Dan ayat-ayat lainnya, lihat kitab Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil hafizhahullah. Tatkala beliau –Raja Najasyi– wafat tidak ada yang menshalatinya maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun menshalatinya.
Dia seorang raja kristen di negeri Habasyah, dia bukanlah orang yang naik ke kursi lantas menegakkan Islam. Ini menandakan pemahaman mereka yang rancu dan timbul dari tidak adanya fiqhul waqi’!!!Kami katakan kepada partai-partai Islam, pelajarilah ilmu-ilmu syar’i!
Akan tetapi mereka tidak dianugerahi kepada jalan ini maka harus diawali dengan memperbaiki masyarakat sebelum sampai ke tampuk kekuasaan. Kami katakan juga, ajarilah manusia ilmu-ilmu agama dan jangan ajari mereka tentang ambisi- ambisi akan tetapi mereka tidak pula dikaruniai kebaikan ini. Demi Allah, kami telah banyak melihat partai-partai Islam ketika menguasai sebagian departemen, mereka lebih konsisten dengan aturan dan UU (buatan manusia) daripada yang lain. Bila mereka ditanya : “Apakah Allah memerintahkan hal ini?” Mereka menjawab : “Ini adalah aturan.”
Lantas mana perubahan yang telah kalian lakukan terhadap kerusakan-kerusakan yang kalian dengung-dengungkan ke telinga manusia? Kalian telah menghabiskan segenap harta dan mengalihkan manusia dari sesuatu yang lebih bermanfaat berupa konsisten terhadap tersebarnya Sunnah dan menjauh dari bid’ah! Dan Allah Maha Kuasa atas segala urusan meski kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
(Dinukil dari buku: Menggugat Demokrasi dan Pemilu. Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)