Selasa, 06 Januari 2009

Menolak Thaghut Adalah Kewajiban Pertama Dalam Islam

 Kewajiban pertama atas setiap Muslim adalah Tauhid (beribadah kepada Allah tanpa menyekutukanNya); dan pilar pertama Tauhid adalah Al Kufur Bit Thoghut, atau menolak Thoghut. Seseorang tidak bisa menjadi Muslim kecuali mereka menolak semua bentuk Thoghut, apakah itu berbentuk konsep, benda tertentu atau seseorang.

Thoghut telah di defenisikan oleh Shahabat dan Ulama klasik yang mengikuti jalan salaf yaitu: “Sesuatu yang disembah, ditaati atau diikuti selain dari Allah.”

Imam Malik bin Anas berkata: “Thoghut adalah segala sesuatu yang disembah (atau ditaati) selian Allah.” (Diriwayatkan dalam Al Jaami’ li Ahkaam Al Qur’an oleh Imam Al Qurtubi)
Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Dan thoghut secara umum, adalah sesuatu yang disembah selain Allah, dan itu disetujui untuk disembah, diikuti atau ditaati.” (Risalatun fii Ma’naa At Thoghut oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab) Lebih lanjut, karena sebuah objek diperlakukan sebagai thoghut seharusnya disembah selain Allah, dan bagi seseorang yang menjadi thoghut dia harus setuju untuk disembah atau ditaati. Sebagai contoh towaghit adalah berhala, batu, pohon, tempat keramat, patung, kuburan atau jimat dan sebagainya yang orang-orang sembah atau mencari pertolongan darinya; keinginan, filosofi, hukum, konstitusi, selebritis, atau Nabi palsu yang orang-orang ikuti; dan penguasa, Ulama serta pembuat hukum (anggota parlemen) yang melegalkan hukum mereka sendiri dan mengadili dengan hukum dan konstitusi buatan manusia.

Seseorang bisa menghabiskan seluruh hidupnya untuk shalat atau berbicara tentang Islam, Jihad, Haji, shalat, Dakwah, Qur’an, Sunnah, Siyaam dan seterusnya, tetapi jika mereka tidak menolak thoghut dan mengingkari thoghut semua itu akan lenyap. Ini karena menolak thoghut adalah syarat pertama menjadi seorang Muslim, dan mengapa alasannya hal itu meliputi dalam bagian pertama pada Kalimah:

  1. Laa ilaaha “tidak ada tuhan” (An Nafii – menolak thoghut dan Tuhan-tuhan palsu).
  2. IllAllah “kecuali Allah” (Al ithbaat – penetapan keimanan)
Selanjutnya, dengan melafadzkan dan mempercayai kalimah itu seseorang benar-benar mendeklarasikan ketidakpercayaannya dan menolak tuhan-tuhan palsu dan menetapkan keimanan kemudian menerima Satu, Tuhan yang benar – Allah. Tidak mungkin bagi seseorang menjadi Muslim kecuali mereka mengkufuri semua tuhan-tuhan palsu dan agama batil.

Kunci untuk memahami Kalimah

Allah SWT berfirman: “barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (kalimah).” (QS Al Baqarah, 2: 256)

Memahami maksud Kalimah adalah kondisi pertama Tauhid dan sebuah kewajiban atas setiap Muslim. Allah SWT menginformasikan kepada kita dalan ayat di atas bahwa hanya seseorang yang menolak thoghut dan beriman kepada Allah yang telah memahami maksudnya, dan selanjutnya akan menerima keberhasilan di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

“Seseorang yang mati dan memahami (makna) laa ilaaha illallah akan masuk surga.” (Shahih Muslim, Jilid 1, bab 10 Hadits no. 26)

Selanjutnya, rahasia untuk memahami Kalimah adalah dengan menolak thoghut. Karena alasan ini, sangat penting bagi kita untuk mempelajari cara menolak thoghut – itu jika kita ingin mempunyai pemahaman yang benar tentang Laa ilaaha illAllah.

1. Mendeklarasikan Thoghut Adalah Batil

Cara pertama untuk menolak Thoghut dengan meyakini bahwa semua Thoghut adalah batil dan tidak berhak untuk disembah atau ditaati. Sebagian orang mungkin tidak menyembah thoghut, tetapi mereka tidak meyakini bahwa thoghut mutlak batil. Ini adalah kekufuran. Sebagai seorang Muslim perlu meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran dan semua agama yang lain itu batil, dan bahwa Allah adalah satu-satunya Illaah yang benar dan semua aalihah yang lain itu batil. Allah berfirman:

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Al Hajj, 22: 62)

2. Menjauh dari Thoghut

Allah SWT mengutus seorang Rasul kepada setiap komunitas dengan risalah yang sama: beribadah dan hanya menaati Allah, dan menjauh dari Thoghut:

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thoghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An Nahl, 16: 36)

Perintah untuk “ijtanibuu” (menjauhi) mempunyai implikasi yang lebih besar daripada mengatakan ‘tidak menyembah (atau mendukung)’. Ini karena dalam Ushul Fiqih, sebuah perintah untuk ijtanaab (menjauhi) adalah lebih berat daripada sebuah larangan untuk tidak melakukan. Sebagai contoh Allah SWT memerintahkan kita untuk menjauhi khamr (alkohol); jika mendekati alkohol itu terlarang, memegang sebotol bir adalah lebih terlarang, apalagi meminumnya. Sama halnya, Allah telah memerintahkan kita untuk menjauh dari thoghut, terlebih lagi menjadi asisten mereka, sekutu, menteri, atau mufti atau bahkan bergabung dengan polisi, tentara atau pemerintah mereka.

Faktanya adalah kufur untuk beribadah, melayani, menaati atau mengikuti thoghut manapun, dan siapa saja yang melakukan demikian akan menjadi murtad. Menyembah thoghut (dengan menaatinya) juga salah satu karekteristik Yahudi dan Nasrani, mereka mengambil rahib-rahib dan para pendeta mereka sebagai Tuhan selain Allah dengan menaati mereka pada saat para pendeta dan juga rahib secara terang-terangan merubah dan melawan wahyu yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada mereka. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thoghut?." Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS Al Ma’idah, 5: 60)

‘Umar Bin Khattab berkata: “Thoghut adalah Syaitan.” Karena setiap thoghut adalah Syaitan, kita harus selalu ingat dalam pikiran kita bahwa adalah sebuah ke-murtad-an beribadah, menaati atau melayani thoghut.

Setiap penguasa atau Ulama yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah adalah Thoghut dan Syaitan; selanjutnya, adalah sebuah ke-murtad-an menolong mereka, bergabung dengan barisan mereka, mempertahankan mereka atau berperang untuk mereka. Sungguh, hanya kuffar dan Munafiqin yang menolong dan berperang untuk Thoghut:

“Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: "Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).” (QS An Nisaa’, 4: 73)

Jika seorang Ulama menjadi Thoghut (dengan menghalalkan apa yang Allah haramkan, sebagai contoh) kita harus menjauh darinya, tidak belajar dengannya atau hadir dalam ceramahnya. Dengan berbuat demikian seseorang benar-benar beribadah kepada Allah dengan memenuhi perintahNya dan manjauh dari thoghut.

3. Menunjukkan kebencian kepada Thoghut

Setiap orang beriman harus mendeklarasikan kepada semua towaaghit kepada musuh-musuh mereka sebagaimana mereka adalah musuh-musuh Allah. Jika seseorang tidak mendeklarasikan thoghut itu batil, tidak menjauhinyadan tidak membencinya, dia tidak menolak thoghut dan masuk Islam. Pada dasarnya, jika seseorang memahami bahwa thoghut adalah musuh mereka, mereka tidak akan pernah bersekutu dengannya atau menjadi mufti atas rezim kufurnya. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS Al Mumtahanah, 60: 4)

Para Nabi dan Saalihah tidak bertoleransi kepada Ulama yang berada dipintu-pintu penguasa tiran Muslim. Terlebih lagi tidak diperbolehkan berada pada pintu-pintu penguasa murtad yang telah bersekutu dengan salibis dan menolak Syari’ah.

4. Membenci Thoghut

Setelah seseorang mendeklarasikan thoghut itu batil, menjauhinya dan mendeklarasikan menjadi salah satu musuh, mereka seharusnya membenci thoghut. Dalam Islam, tidak ada konsep “cintailah musuhmu”. Faktanya, dilarang untuk mencintai musuh kita dan itu hanyalah kebodohan kalau melakukan demikian. Ibrahim A.S. berkata kepada ummatnya, yang mengkufuri Allah dan beribadah kepada thoghut:

“...kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja....” (QS Al Mumtahanah, 60: 4)

Tidak diperbolehkan untuk menunjukkan kecintaan atau persahabatan kepada thoghut (Syaitan), atau kepada tentara-tentaranya, penolongnya, sponsor, asisten, pendukung, mufti, menteri, pengikut, dan sebagainya. Sebaliknya, seseorang harus beribadah kepada Allah dan membenci mereka.

5. Mendeklarasikan Thoghut Adalah Kafir (Takfir)

Kewajiban selanjutnya dalam menolak thoghut adalah seseorang harus melakukan takfir kepada thoghut (Syaitan). Tidaklah mungkin bagi thoghut (syaitan) bersama-sama dengan seorang Muslim karena thoghut adalah sesuatu yang disembah atau ditaati selain Allah; atau karena thoghut adalah Tuhan palsu.

“...barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS Al Baqarah, 2: 256)

Seseorang yang tidak melakukan Takfir dengan mendeklarasikan Syaitan (thoghut) menjadi kafir adalah kafir. Ini karena Allah SWT telah mendeklarasikan Syaitan menjadi Kafir dalam Qur’an. Selanjutnya, Allah SWT telah juga mendeklarasikan seseorang yang menyembah thoghut (dengan memutuskan perkara kepadanya) menjadi Kafir juga:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An Nisaa’, 4: 60)

Saat ini, sedang terjadi sebuah usaha yang gencar dilakukan untuk mengajak setiap orang beriman menjadi murtad dan selanjutnya menjadi kafir, dengan menggoda mereka menjadi dekat dengan thoghut dan tidak menjauh darinya. Dengan demikian, penting bagi kita untuk bertahan di bawah Tauhid dan bagaimana cara menolak thoghut; karena menolak thoghut (pemenuhan pilar pertama Tauhid) adalah kunci memahami Kalimah Syahadah, untuk selamat dari neraka dan memasuki surga. Insya Allah.

Yang Paling Utama Dalam Hidup ini

 (Almuhajirun.com) Ada perbedaan antara ketaatan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. yang terealisasi dimana seseorang beribadah dalam kendali Sang pencipta alam semesta dan seseorang yang mengabdi kepada keiinginannya, menjadi hina karena mereka menghinakan diri mereka dengan menyembah hawa nafsunya.

Allah SWT. mengatributkan kata hamba kepada namanya sendiri dan atribut ini memuliakan dan meninggikan status kita yaitu hamba Yang maha Pengasih (Abdurrahman); mereka yang sederhana dan yang mengikuti petunjuk di dunia. Nama mereka sendiri telah ditambahkan - hamba atau abdi ‘Allah’ (Abdullah, ‘Ibadullah). Seperti ketika seseorang mengatakan ‘ini kepunyaanku’–dan kita mengetahui dari wahyu bahwa Allah hanya mengatakan hal tersebut pada saat Dia ridho kepada mereka.

Allah SWT berfirman:

“(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (QS Al Insan, 76: 6)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” (QS Al Kahfi, 18: 1)

Orang-orang ini telah sampai pada derajat yang paling tinggi, yakni menjadi hamba Allah, ini adalah posisi tertinggi dalam kehidupan bagi ummat manusia. Hal ini tidak menuntut kita untuk belajar di universitas atau taat pada hukum sebuah negeri, mereka yang mengklaim menjadi legislatif dan ‘penyihir’ pada saat ini yaitu media (tv dan radio) dibuat oleh orang-orang yang menjadi budak manusia lainnya. Jika kita berhasill meraih posisi ini (menjadi hamba Allah) kita tidak membutuhkan posisi yang lainnya. Orang-orang mengatakan begini dan begitu mempunyai posisi tertinggi di dunia ini sebut saja mereka doktor, Maulana, professor, syekh atau lainnya tetapi bagi seorang Muslim kita mengatakan ‘dia adalah Abdullah’. Lebih lanjut kita diwajibkan untuk mencintai ‘Abdullah’, Muslim, dan orang ini adalah orang yang sangat sederhana dalam segala sesuatu, tidak pernah melanggar apa yang Allah perintahkan kepada dirinya, menyampaikan kebenaran dan mengimplementasikan Islam secara menyeluruh dalam kehidupannya.

Allah SWT. mempunyai nama yang sempurna dan sangat bagus maka kita seharusnya selalu berdo’a kepadaNya dengan itu sebab Allah SWT berfirman dalam surah Al ‘Araf. Tetapi kita tidak akan pernah bisa berkomunikasi denganNya atau mempunyai kemampuan atau mampu untuk merujuk kepadaNya apakah kita melakukan dalam semua cara yang di senangi olehNya, atau mendapatkan kemurahanNya kecuali jika kita menjadi hamba Allah, maka kita akan bisa melakukan semua hal ini. Kemudian jika kita ingin pergi kepada seseorang yang jujur dan diterima olehnya, oleh Allah yang Ar Rahman, kita harus mempunyai kejujuran dan rahmah atas diri kita, jika kita ingin diterima oleh orang yang adil maka seharusnya kita menjadi adil. Cobalah untuk mengikuti sifatNya maka kita akan menemukan diri kita diterima olehNya. Karena kebenaran tidak bisa menerima kebalikannya dan pendusta.

Allah SWT telah menggambarkan Rasul Muhammad SAW :

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam...” (QS Al Israa, 17: 1)

Allah disini menjelaskan hubunganNya dengan Nabi, Allah SWT. menjadikannya begitu dekat dengan memanggilnya (Muhammad) hambaNya, yang akan membuat semua orang mempunyai izzah dan kemuliaan ini. Sungguh Allah SWT. telah berkata kepada kita bahwa mereka yang patuh akan selalu dekat denganNya dan akan dicintai oleh Allah sebagaimana Dia mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW. dan semua Nabi. Bahwa ‘kamu berada dalam pengawasan Kami’ – Kami melihatmu dan Kami melindungimu. Jika pengawasan Allah melindungi kita bisa menjangkau kita, jika Allah memuliakan kita dengan kita berdo’a kepadaNya dan menolong DienNya adakah yang (dapat) merugikan kita? Tidak ada seorangpun yang bisa merugikan kita.

Allah disini menjelaskan hubunganNya dengan Nabi, Allah SWT. menjadikannya begitu dekat dengan memanggilnya (Muhammad) hambaNya, yang akan membuat semua orang mempunyai izzah dan kemuliaan ini. Sungguh Allah SWT. telah berkata kepada kita bahwa mereka yang patuh akan selalu dekat denganNya dan akan dicintai oleh Allah sebagaimana Dia mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW. dan semua Nabi. Bahwa – . Jika pengawasan Allah melindungi kita bisa menjangkau kita, jika Allah memuliakan kita dengan kita berdo’a kepadaNya dan menolong DienNya adakah yang (dapat) merugikan kita? Tidak ada seorangpun yang bisa merugikan kita.

Seseorang mungkin berfikir bahwa dia bisa mendapatkan kehormatan dari orang-orang tanpa beribadah kepada Allah, tetapi ini semua akan lenyap. Seperti seseorang yang menikahi dua istri dan menzalimi mereka kemudian dia menikah untuk yang ketiga kalinya dan sang istri memberikannya kesulitan. Allah berfirman bahwa siapa saja yang direndahkan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang akan menghormatinya. Berhati-hatilah kita terhadap hal tersebut.

Ibnu Abbas Ra berkata, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Nabi Muhammad SAW berkata :

“Jangan meninggikanku sebagaimana Nasrani meninggikan Isa Ibnu Maryam, aku adalah hamba dan Rasul Allah.”

Dalam perkataan yang lain Nabi berkata bahwa setinggi-tinggi posisi adalah menjadi Abdullah, dan siapa saja yang bersandar pada Allah akan menemukan musuhnya menjadi pelayannya – tidak lain menjadi tahanan atau pengikut kita. Dengan kata lain jika kita tidak taat kepada Allah SWT., orang yang paling dekat dengan kita akan menjadi musuh kita. Orang-orang yang benar-benar beriman tidak bisa menjadi taat kepada orang lainnya atau membuat orang lain taat kepadanya tetapi mereka seharusnya semua menjadi taat kepada Allah – inilah yang harus membuatnya bangga, lebih lanjut dia tidak akan pernah menjadi legislatif, anggota parlemen atau hakim pada semua hukum buatan manusia – ini adalah bentuk meninggikan dirinya di atas orang lain.

Abu Bakar As Siddiq R.a. memberikan semua yang dia punya hanya untuk Allah SWT. dan Nabi menggambarkannya dengan banyak hal, pernah beliau berkata ‘tidak ada seorangpun di atas orang yang di atas matahari diantara manusia setelah Nabi-nabi daripada Abu Bakar As Siddiq’ namun juga dengan segala puji dari Nabi untukNya, ketika beliau menjelang wafat dia berkata ‘Siapa saja yang menyembah Muhammad, Muhammad akan wafat’ – lebih lanjut dia tidak pernah disembah oleh Shahabat.

Sama halnya ketika Khalid Bin Walid diganti dari posisi Amirul Jihad oleh Umar Bin Khattab, dia berkata ‘demi Allah aku sangat mencintaimu, mengapa kamu menggantikanku dari posisiku? (mengulang ini tiga kali untuk mengetahui jika dia melakukan kesalahan agar dapat dikoreksi). Umar R.A. berkata kepadanya ‘Wallahi (demi Allah) aku juga mencintai kamu – aku tidak mengganti posisimu kecuali bahwa aku orang yang terkena fitnah atasmu’ yaitu jika mereka mulai mengatakan bahwa ‘karena kamu kita mendapatkan kemenangan’, dimana orang-orang mulai untuk beralih ibadah kepada yang lain. Itulah kehidupan Shahabat dahulu berada di posisi paling tinggi karena totalitas ketaatan kepada Allah SWT.

Pernah seorang tamu Umar R.A. dan dia mencoba untuk mengambil minyak dari Umar dan membuat penerangan untuknya. Sang tamu berkata ‘Aku ingin aku bisa melakukan demikian untukmu’ yaitu menjadi orang yang sederhana dan membantu Amirul Mu’minin, Umar RA. Namun Umar R.A. berkata aku adalah seseorang yang akan melakukan ini dan dengan demikian kamu tidak usah melakukannya untuk aku, tetapi aku bisa melayani diriku karena aku ingin balasan dari seseorang yang aku taati.’ Bahkan Umar Bin Abdul Aziz mempunyai kisah dimana pembantunya berkata ‘biarkan aku melakukan sesuatu untukmu’ dan dia menolaknya.

Ringkasnya melaksanakan Dien, patuh kepada Allah SWT. dan memenuhi syarat agar bisa disebut ‘Abdullah’ oleh Allah, semua orang yang benar-benar beriman pasti ingin mencapai posisi ini dalam hidupnya sebagai lawan dari semua posisi dimana manusia ingin diberikan dalam hidup ini. Itulah hal yang utama dalam hidup ini. Wallahu’alam bis showab!