Kamis, 27 Januari 2011

Adakah Gono-gini dalam Islam??

Oleh : Ustadz Muhajirin, Lc.


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Al hamdulillah, washallallahu wasallama ‘ala Rasuulillahi Muhammadin Wa’alaa Alihi Washahbih.

Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu bahwa suami dan istri ketika menjalani kehidupan berumah tangga maka harta mereka tidak lepas dari tiga jenis kepemilikan.

Pertama : harta milik suami saja, maksudnya harta yang dimiliki oleh suami semata tanpa ada hak kepemilikan istri di dalamnya sedikit atau banyak, seperti, harta yang didapatkan oleh suami dari hasil kerja dan jerih payahnya selain dari apa yang telah dia nafkahkan kepada istri dan keluarganya. Atau harta yang dihibahkan oleh orang lain secara khusus kepada suami. Atau harta warisan yang diperoleh suami dari kerabatnya atau ahli warisnya yang meninggal, dsb.

Kedua : Harta milik istri saja, yaitu harta yang dimiliki istri semata tanpa ada kepemilikan suami di dalamnya sedikit atau banyak, misalnya; mahar, harta yang dimiliki oleh istri sebelum menikah atau seorang istri bekerja sehingga ia mendapatkan hasil dari kerja dan usahanya. Harta yang diwashiatkan oleh orang lain kepada istri saja, atau harta warisan yang ia dapatkan dari kerabatnya, atau washiat dsb.

Ketiga : harta bersama milik suami dan istri atau harta serikat antara mereka berdua, seperti harta yang dihibahkan kepada mereka berdua, atau harta dari hasil modal bersama yang kemudian mereka kembangkan, atau harta benda yang mereka beli bersama dari kantong masing-masing seperti rumah atau tanah, atau harta yang diwasiatkan kepada mereka berdua, dsb.

Harta yang pertama dan kedua adalah hak masing-masing suami dan istri untuk mempergunakan harta mereka sendiri, maka suami memiliki hak pribadi atas harta yang dia usahakan dan hasilkan selain dari harta yang harus dinafkahkan oleh suami terhadap istrinya sesuai dengan kadar wajib menurut standar syariat. Sebaliknya jika istri memiliki harta sendiri maka ia pun memilki hak pribadi untuk menggunakannya dan tidak boleh bagi suami untuk mengambil dan mempergunakannya kecuali atas izin sang istri, atau kecuali sang istri menshadaqahkan sebagian hartanya untuk suami.

Adapun di antara dalil yang menunjukkan bahwa islam menghargai hak milik pribadi adalah :

1. Keumuman firman Allah Ta’ala :

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ

“Bagi orang laki-laki adalah bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita adalah bagian dari apa yang mereka usahakan.” [QS An Nisa` : 32]

2. Hadits dalam Shahih Al Bukhari.

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ سَوَاءً قَالَتْ كُنْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ وَكَانَتْ زَيْنَبُ تُنْفِقُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ وَأَيْتَامٍ فِي حَجْرِهَا قَالَ فَقَالَتْ لِعَبْدِ اللَّهِ سَلْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ وَعَلَى أَيْتَامٍ فِي حَجْرِي مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ سَلِي أَنْتِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدْتُ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ عَلَى الْبَابِ حَاجَتُهَا مِثْلُ حَاجَتِي فَمَرَّ عَلَيْنَا بِلَالٌ فَقُلْنَا سَلْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي وَقُلْنَا لَا تُخْبِرْ بِنَا فَدَخَلَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ مَنْ هُمَا قَالَ زَيْنَبُ قَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ قَالَ امْرَأَةُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ لَهَا أَجْرَانِ أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

Dari Amru bin Al Harits dari Zainab istri Abdullah (bin Mas’ud) berkata; “Saya berada di dalam masjid maka saya melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : Bersedekahlah (berzakatlah) wahai para wanita walau dari perhiasan kalian. Zainab adalah seorang wanita yang memberi nafkah suaminya Abdullah, dan anak-anak yatim yang berada dalam pemeliharaannya. Dia berkata kepada suaminya, ‘Tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bolehkah aku berikan nafkah untukmu dan anak-anak yatim yang aku pelihara, aku jadikan sebagai shadaqah (zakat). Ibnu Mas’ud berkata : tanyakan sendiri kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Aku pun pergi menuju Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan aku dapatkan seorang wanita Anshar yang memiliki hajat sama denganku sedang menunggu di pintu, kemudian ada Bilal yang bertemu kami, kami berkata; “Tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bolehkah saya memberi nafkah kepada suamiku dan anak-anak yatim yang aku pelihara, kami juga berkata, ‘jangan kasih tau beliau tentang kami.’ Lalu bilal Masuk dan menanyakannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau berkata, siapa mereka?, Bilal berkata : Zainab, Beliau bersabda, “Zainab yang mana?” Bilal menjawab : “Istri Abdullah.” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Iya, dia mendapatkan dua pahala, Pahala (menyambung) kerabat, dan pahala shadaqah.” [HR Al Bukhari, No 1466]

Kesimpulan dari hadits ini adalah; bahwa Zainab istri Abdullah bin Mas’ud adalah seorang yang kaya dan dia memiliki harta sendiri yang tidak dimiliki oleh Abdullah bin Mas’ud kecuali yang dia nafkahkan dan zakatkan kepadanya. Dan hal tersebut diketahui oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan diakui oleh beliau, artinya islam menghargai hak milik pribadi sebagaimana hadits di atas.

Adapun jenis harta ketiga, yakni harta yang dimiliki bersama oleh suami dan istri maka masing-masing memiliki hak untuk mempergunakannya menurut kesepakatan yang telah ditentukan, para ulama sering menyebut jenis harta semacam ini dengan harta Syarikat Lil Amlaak, yang masuk dalam katagori syarikat lil amlaak bil ikhtiyar yaitu harta serikat bersama yang bersumber dari kemauan dan pilihan masing-masing tanpa adanya akad, misalnya; dua orang bergabung untuk membeli rumah, atau dua orang dihibahkan atau diwasiatkan sesuatu kemudian mereka menerimanya. Maka dalam serikat semacam ini cara penggunaannya menurut kesepakatan kedua belah pihak [Al Fiqhu Al Islami Wa adillatuhu, oleh Dr Wahbah Zuhaili, Juz.5 Hal.523, dan lihat pula dalam Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq, Juz.3 Hal.55]

Dan pada jenis ketiga inilah harta yang digono gini, atau dibagi berdua antara suami dan istri apabila terjadi perceraian antara keduanya karena harta tersebut adalah harta serikat mereka berdua, dan inilah Manath (fakta) yang hendak dihukumi bagaimana pembagian harta milik bersama antara suami dan istri ketika mereka bercerai.

Tidak ada dalil syar’ie baik dari nash Al Qur`an maupun As Sunnah yang menetapkan pembagian harta goni gini secara pasti dengan ketentuan 50-50, Namun syareat menetapkan hukum pembagiannya bergantung pada kesepakatan antara suami dan isteri berdasarkan musyawarah atas dasar saling ridha, kesepakatan inilah yang disebut dalam syariat sebagai As Shulhu (perdamaian).

Adapun dalil yang dijadikan dasar perdamaian suami istri adalah hadits berikut :

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ اَلْمُزَنِيِّ عن أبيه عن جده أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: - اَلصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ اَلْمُسْلِمِينَ, إِلَّا صُلْحاً حَرَّمَ حَلَالاً وَأَحَلَّ حَرَاماً، وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ, إِلَّا شَرْطاً حَرَّمَ حَلَالاً وَ أَحَلَّ حَرَاماً

Dari ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzanni dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Perdamaian adalah boleh di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal dan perdamaian yang menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin [bertindak] sesuai syarat-syarat di antara mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan syarat yang menghalalkan yang haram.” [HR At Tirmidzi No 1352, Ibnu Majah, No. 2353, Abu Dawud, No 3596, hanyasaja dalam sunan Abu Dawud diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dalam shahih tirmidzinya]
Muhammad bin Isma’il As Shan’ani menjelaskan tentang hadits ini dan berkata :

قَدْ قَسَّمَ الْعُلَمَاءُ الصُّلْحَ أَقْسَامًا، صُلْحُ الْمُسْلِمِ مَعَ الْكَافِرِ، وَالصُّلْحُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَالصُّلْحُ بَيْنَ الْفِئَةِ الْبَاغِيَةِ وَالْعَادِلَةِ وَالصُّلْحُ بَيْنَ الْمُتَقَاضِيَيْنِ وَالصُّلْحُ فِي الْجِرَاحِ كَالْعَفْوِ عَلَى مَالٍ وَالصُّلْحُ لِقَطْعِ الْخُصُومَةِ إذَا وَقَعَتْ فِي الْأَمْلَاكِ وَالْحُقُوقِ وَهَذَا الْقِسْمُ هُوَ الْمُرَادُ هُنَا وَهُوَ الَّذِي يَذْكُرُهُ الْفُقَهَاءُ فِي بَابِ الصُّلْحِ

“Para ulama telah membagi ash-shulhu (perdamaian) menjadi beberapa macam; perdamaian antara muslim dan kafir, perdamaian antara suami isteri, perdamaian antara kelompok yang bughat dan kelompok yang adil, perdamaian antara dua orang yang bertahkim kepada qadhi (hakim), perdamaian dalam masalah tindak pelukaan seperti pemberian maaf untuk sanksi harta yang mestinya diberikan, dan perdamaian untuk memberikan sejumlah harta kepada lawan sengketa jika terjadi pada harta milik bersama (amlaak) dan hak-hak. Pembagian inilah yang dimaksud di sini, yakni pembagian yang disebut oleh para fuqoha pada bab ash-shulhu (perdamaian).” [Subulus Salam Syarhu Bulughul Maram, Jilid 3 Hal 58]

Dan begitu pula yang dikatakan oleh Abu At Thayyib Muhammad Syamsul Haq Al Azhim di dalam kitabnya Aunul Ma’bud Syarhu sunan Abi Dawud, Juz.9, Hal.373]

Oleh karena itu berdasarkan dalil hadits dari Amru bin Auf Al Muzanni di atas, bila terjadi perceraian antara suami dan istri kemudian hendak terjadi pembagian harta yang tergolong dalam katagori harta serikat lil`amlaak (harta kepemilikan bersama) maka pembagian tersebut dapat ditempuh dengan cara perdamaian (as shulhu) manakala terjadi sengketa. Karena dia termasuk bagian perdamaian antara suami dan istri.
Kemudian pembagian secara damai ini menurut kesepakatan masing-masing tanpa melanggar batasan-batasan syar’ie, boleh antara keduanya mengambil kesepakatan suami mendapat 50 % dan isteri 50 % , atau suami 60 % dan istri 40 %, atau sebaliknya istri 60 % dan suami 40 %, semua ditempuh berdasarkan keridhaan dan kerelaan masing-masing.

Kesimpulan

1.Ketika terjadi perceraian antara suami dan istri maka tidak ada pembagian harta gono gini dalam islam kecuali yang tergolong dalam harta syarikat lil`amlaak (Harta milik bersama dari hasil bersama) sebagaimana yang telah dijelaskan pengertiaannya di atas

2.Pembagian harta syarikat lil Amlaak (harta milik bersama) antara suami dan istri ketika terjadi perceraian tidak harus fifty-fifty (50-50) akan dengan cara as shulhu (perdamaian) antara para pemilik sesuai dengan kerelaan masing-masing.


Wallahu A'lam

Selasa, 21 Desember 2010

Asia to Gaza Solidarity Caravan (Part - 2)

TURKI DAN IHH INSANI YARDIM VAKFI
Kamis, 16 Desember 2010

Waktu menunjukkan pukul 05.45 waktu Bazarghan, saatnya melaksanakan sholat shubuh untuk wilayah Bazarghan yang berbatasan langsung dengan Turki, sholat shubuh kami laksanakan didalam kamar Hotel tanpa petunjuk arah kiblat, kita hanya melihat matahari muncul dan menerka arah kiblat. Satu jam berselang pasca berkemas kita turun ke lantai satu untuk menikmati sarapan pagi ala Hamid Hotel yaitu sebongkah roti, krim keju, dan madu. Aktivitas di lobi hotel begitu sibuk dari menukar mata uang, pendataan ulang peserta karavan dan lain-lain. Mobil pik up datang barang kami diangkut semua kedalam dua mobil pik up, sementara peserta karavan berjalan kaki sekitar 500 meter hingga tiba dikawasan perbatasan.

No camera..kita dilarang ambil gambar selama di perbatasan oleh polisi Turki dan antrian panjang mewarnai prosesi pengecekan visa untuk masuk Turki, khusus orang Indonesia kita langsung lewat untuk bayar visa on arrival dulu, baru kemudian kembali ke loket untuk menunjukkan passpor dan visa, lepas dari itu barang-barng kami diperiksa kemudian kita berjalan sekitar 200 meter hingga terlihat tig bus IHH menyambut kami.

Sisi Turki yang berbatasan langsung dengan Iran bernama Dogu-Bayazid, kita jumpa pers sejenak di Dogu-Bayazid sekaligus sambutan dari Akhi Sholahuddin dari NGO Van yang berafiliasi dengan IHH, mulai bermunculan akhwat-akhwat bercadar yang seakan berkata dengan cadarnya bahwa kami adalah orang-orang Suni. Kota pertama yang kita tuju di Turki yaitu kota Van. Perjalanan kami diiringi dengan pengunungan dan perbukitan di kanan dan kiri jalan, mulai dari gunung Ararat tempat bermukimnya orang-orang traisional Kurdi dan bukit-bukit berlapis salju disepanjang jalan kami menuju Van. Terlihat model rumah-rumah orang Kurdi yang unik seperti benteng tanpa genteng namun bagian atas rumah diberi lapisan jerami yang cukup tebal, terlihat para peternak-peternak domba sedang menggembala domba-dombanya, nampaknya mata pencaharian orang-orang setempat adalah peternak domba.

Van

Tiba di Van setelah dua setengah jam perjalanan. Van kota yang cukup padat dengan rusun-rusun, jalan raya tidak terlalu lebar sehingga laju kendaraan tidak bisa terlalu cepat, IHH membawa satu mobil sejenis van dengan sound sistem lengkap memperdengarkan nasyid-nasyid disepanjang jalan. Masyarakat dipinggir jalan yang cukup ramai karena pada jam itu merupakan jam pulang kerja pada hari kamis terlihat memandang karavan kami dengan pandangan keheranan walaupun ada beberapa yang menyambut lambaian tangan kami.

Awalnya teman-teman underestimate dengan masyarakat Turki yang kemungkinan tidak akan menyambut karavan sebagaimana masyarakat Iran, terlebih ketika baru masuk Van. Rombongan berhenti di depan sebuah bangunan yang telah dilengkapi spanduk-spanduk berbahasa Turki yang berarti sam butan kepada rombongan Asia Caravan to Gaza, setelah kita masuk ternyata itu adalah stadion bola basket yang akan digunakan untuk acara konferensi pers dan seminar Asia Caravan to Gaza. Kami mengawali kegiatan di Van dengan sholat jama' zhuhur-ashar di masjid persis di depan stadion dengan diantar oleh salah seorang penduduk lokal yang kami tak kenal siapa namanya kami diajak ke toilet untuk wudhu dan dia yang bayari kami untuk “ongkos” toiletnya, setelah itu dia pergi. Ba'da soholat kita kembali ke stadion..Subhanalloh..anggapan teman-teman bahwa di Turki tidak akan sesemarak Iran terbantahkan masyarakat berdatangan dari kaum muda,tua,anak-anak memenuhi kursi stadion dan hiruk pikuk para akhwat bergamis terlihat membawa panci-panci besar ke ruang belakang stadion, kemungkinan itu adalah sumbangan warga untuk makan malam pertama kami di Turki.

Hadirin di stadion duduk rapih laki-laki di sisi kiri dan wanita di sisi kanan terlihat mereka mengenakan pakaian berwarna gelap lengkap dengan cadar dan slayer hijau bertuliskan La Ilaha Illa Allah Muhammadar Rasulullah, saya dihadiahi oleh salah seorang akhwat berjubah hitam slayer hijau tersebut yang saya tak tahu siapa namanya. Adzan berkumandang kami mengira itu adzan ashar, ternyata itu adalah adzan maghrib sementara waktu baru menunjukkan pukul 16.00 waktu Turki, memang pada musim dingin di Turki waktu siang begitu singkat. Para hadirin berangsur-angsur melaksanakan sholat, keluar dari stadion. Tiba acara inti dimulai, setiap negara diwakili oleh satu orang pembicara, mba Rachmawati dari VoP mewakili Indonesia.

Meja pembicara dilatari backdrop bertuliskan “Welcome to The Blue Van The Marmara Activists” dalam lima bahasa yaitu Inggris, Turkis, Rusian, Arab dan Parsi, ini pertanda kenangan tragedi Mavi Marmara begitu melekat di hati masyarakat Turki dan begitu populer sehingga setiap aktivis yang hendak ke Gaza dalam rangka menolong kaum Muslimin disana disebut dengan Aktivis Marmara. Setelah perwakilan dari delapan negara (jumlah sementara negara-negara yang bergabung dengan Asia Caravan to Gaza) berbicara diiringi dentuman-dentuman takbir menggetarkan seisi stadion, satu pembicara fenomenal pada malam itu yang berbicara dengan bahasa arab, berbicara tentang syahadah dan menyinggung perjuangan dua tokoh penting Hamas yang telah syahid insya Alloh Syaikh Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi membangkitkan semangat semua hadirin pada malam itu, Pak Cik begitu kami menyepa beliau adalah Ustadz Norazli dari Munirah Care Malaysia yang menggemparkan stadion malam itu dengan pidatonya dan penampilan layaknya Mujahidin Taliban dengan sorban melibat kepala dan janggut panjang menjuntai hingga ke perut.

Setelah acara sejenis seminar itu selesai, saya melihat hampir semua hadirin laki-laki menghampiri Pak Cik mengantri bersalaman, berpelukan dan tidak sedikit yang meminta berfoto bersama, yang paling menakjubkan ada seorang ibu menghampiri Pak Cik dan memberikan cincin emasnya untuk membantu perjalanan ke Gaza Subhanalloh. Kami pun dihampiri oleh mereka walau tidak seperti Pak Cik, mereka menyalami serta memeluk kami, mereka memperlakukan kami layaknya Mujahidin yang akan berangkat ke medan tempur.

Matras digelar tanda waktu makan malam akan dimulai, bukan hanya kami para delegasi karavan yang makan, namun semua hadirin diajak makan bersama di lapangan itu, para akhwat membuat lingkaran sendiri terpisah dari kami para ikhwan. Alhamdulillah makan malam kami pada malam itu dengan nasi ayam dan sayur lalapan khas Turki, begitu nikmat makan malam itu karena berjama'ah dan juga baru kali itu kami makan nasi selama sehari, namanya juga orang Indonesia kalau belum makan nasi berarti belum makan.

Kesemua kegiatan kami di Van diselenggarakan oleh IHH Insani Yardim Vakfi yang lebih sering disebut IHH sebuah NGO kaliber internasional yang bermarkas di Istanbul, begitu fenomenal manakala bicara Gaza dan IHH mengingat mereka telah mempersembahkan syuhada insya Alloh pada tragedi Mavi Marmara dalam rangka membuka blokade Gaza, sepanjang perjalanan kami dari perbatasan hingga Van bendera IHH dan Palestina berkibar di setiap kendaraan, setiap orang menggunakan shall Palestina dan IHH. IHH engkau begitu fenomenal di dunia maupun di negara asalmu...


TURKI DAN IHH INSANI YARDIM VAKFI
Jum'at, 17 Desember 2010


Pertemuan dengan Abu Zainab di Van

Matras kembali digulung tiba para hadirin dan kami peserta karavan bercengkrama, berfoto bersama pasca makan malam, saya menjumpai seorang bernama Abu Zainab kemudian kami berbincang seputar tema keIslaman, beliau mengatakan bahwa masyarakat Van mayoritas Sunni mengikuti madzhab Muhammad bin Idris Asy Syafi'i, saya katakan bahwa di negara saya Indonesia juga mayoritas bermadzhab Syafi'i, beliau memeluk saya, kemudian beliau berkata lagi bahwa kami mengikuti para salaf, langsung saya sahut dengan menyebutkan beberapa nama ulama diantaranya Al Albani, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, beliau kembali memeluk saya erat hingga badan saya terangkat.

Beliau berbincang ke saya dengan suara perlahan dan mendekati telinga saya, saya pun mengikuti dengan berbicara sedikit berbisik kepada beliau, ternyata beliau hendak mengabarkan bahwa beliau juga mendukung perjuangan Mujahidin Ahlus Sunnah di Checnya, Afghanistan, Iraq tentunya Palestina, dan mengatakan bahwa Asy Syahid Abdul Azzam, Syamil Basayef, Khottob berikut Syaikh Usamah bin Ladin adalah panutan kami, Subhanalloh..kemudian beliau kembali memeluk saya. Setelah itu Abu Zainab memperdengarkan nasyid-nasyid jihad di hp-nya ke saya tak lupa kita berfoto bersama seraya beliau memanggil teman-teman beliau dan berkata, “Mujahid...Mujahid...”, saya pun memanggil dr.Misbah. Luar biasa Alloh
mempertemukan kami dengan orang seperti mereka.

Panggilan panitia terdengar tiba saatnya kami meninggalkan stadion menuju guest house yang disediakan oleh Akhi Sholahuddin dan NGO-nya berjarak sekitar 1
kilometer dari stadion. Malam itu kami tidur di ruang semacam aula berkarpet
merah di lantai 2 sebuah rusun milik NGO-nya Sholahuddin, kami tidak menurunkan tas-tas besar kami dari bus, konsekuensinya pagi hari kami mandi dengan gaya
“minimalis”.


Sabtu, 18 Desember 2010

Menuju Diyarbakir dengan Nasib Bangsa Shalahuddin Al Ayyubi

“Go to the breakfast !!!”, Akhi Jamal dari IHH memanggil peserta karavan untuk ke lantai 6 rusun, kita makan pagi kali ini dengan sebongkah roti, selai, keju, madu dan buah zaitun yang pahit sepat rasany, walaupun begitu kita tetap semangat bahkan Pak Cik bilang, “It's a real caravan...” mengingat di Iran kita begitu dimanjakan sementara di Turki kita benar-benar diperlakukan sederhana. Sarapan selesai kita menuju kembali ke stadion dengan berjalan kaki lebih kurang 500 meter.

Peserta kumpul, semua siap berangkat, tim Indonesia satu bus dengan Iran,
Bahrain, Jepang, Malaysia dan dua orang lokal Van yang baru bergabung. Kami menuju Diyarbakir sekitar 6 jam dari Van, pukul.07.00 kita berangkat. Dalam perjalanan ke Diyarbakir kita melalui beberapa titik daerah untuk jumpa pers sekitar 15-30 menit, sementara hanya satu orang perwakilan dari setiap negara yang boleh turun, penumpang bus tetap di bus selama mampir-mampir di beberapa titik. Daerah pertama yang kita hampiri adalah Tatvan, daerah kecil yang diapit oleh kedua bukit bersalju. Perjalanan dilanjutkan, saya berbincang dengan 2 rekan baru dari Van yang duduk tepat di belakang dr.Misbah sementara saya tepat disebrang kanan dr.Misbah, mereka bernama Ibrahim yang lebih senang dipanggil Black Crowdan Gutmann, keduanya merupakan aktivis HAM antiperang dan antinegara menurut pengakuan mereka.

Awalnya kami sekedar bercerita tentang motivasi mengikuti karavan ini, kemudian hubungan mereka dengan IHH dan seputar ideologi mereka, namun pembicaraan semakin menarik Ibrahim terus bercerita dengan sesekali dipertajam dengan pertanyaan dari Ukhti Anna Susanti (TVone),sementara bus terus melaju menyisir tepi danau Van yang cukup panjang. Dalam pembicaraan itu Ibrahim bercerita tentang kengerian yang terjadi di wilayah-wilayah yang baru dan akan kita lewati dari Dogubayazid sampai Gaziantep sesuai jadwal karavan, daerah-daerah tersebut adalah daerah yang dihuni oleh mayoritas etnis Kurdi. Sedikitnya rata-rata ada 50 orang tewas setiap harinya akibat pembantaian “legal” oleh pemerintah Turki dengan cara dijatuhi bom-bom oleh helikopter Turki, etnis Kurdi mayoritas mendiami wilayah pegunungan disekitar wilyah Turki Timur hingga Selatan. Ukhti Anna berkata,”O...pantas di sekitar Dogubayazid kemarin rumah-rumah dibukit itu bentuknya seperti benteng dan ditutupi jerami yang tebal, mungkin untuk kamuflase menghindari pengeboman.

Ibrahim melanjutkan, “Disini setiap anak usia 7 tahun dipenjara hingga usia 12 tahun tanpa ada alasan dalam rangka merusak mental mereka”, saya dan Ukhti Anna terhenyak betapa mirisnya kisah orang-orang Kurdi di Turki. Ibrahim sangat mengetahui tentang hal ini mengingat ia adalah keturunan Kurdi, ayahnya berkebangsaan India dan ibunya Kurdi, ia sempat akan di penjara ketika kecil namun orang tuanya membayar sejumlah uang ke aparat pemerintah agar Ibrahim tidak di penjara. Hari ini menurut salah seorang aktivis IHH yang saya tanyakan,pembantaian dan pemenjaraan itu sudah tidak ada lagi walaupun ia membenarkan hal tersebut pernah terjadi, hanya pemerintah Turki masih menyikapi kaum Kurdi secara diskriminatif hingga hari ini.

Bangsa Kurdi adalah bangsa yang hidup di wilayah barat Iran, utara Irak dan
timur-selatan Turki, mereka biasa mendiami perbukitan dan pegunungan, mereka
terdiskriminasi di setiap negara dimana mereka tinggal, ada isu mereka ingin
membuat negara Kurdi sendiri, baik isu itu benar atau salah, intinya bangsa
Kurdi adalah bangsa Muslim yang juga berhak kita perhatikan bahkan mereka telah menyumbangkan putra terbaik untuk Islam yang hingga hari ini namanya harum dan
erat kaitannya dengan Al Aqsa, dialah Shalahuddin Al Ayyubi Al Kurdiy,
pahlawan Islam yang telah membuka Al Aqsa dan mengharumkan nama Islam pada
masanya. Ada analisa bahwa memang ada konspirasi besar orang-orang kafir yang
didalangi Yahudi-Salibis untuk memusnahkan bangsa Kurdi karena mereka khawatir
akan munculnya sosok seperti Shalahuddin Al Ayyubi.


Kemudian tepat waktu zhuhur (pukul.11.30) kita tiba di Baykan tepatnya di
Masjid Veysel Karani bersebelahan dengan makam Veysel Karani (nama ulama yang
menyebarkan Islam di wilayah itu yang berasal dari Yaman) untuk istirahat
sejenak dan ke kamar kecil bagi yang memerlukan, persis di depan masjid ada
pasar dan warga berbondong-bondong mendatangi kami bertakbir,bertahlil,bertahmid, namun ada kesan sedikit tidak bersahabat dipasar itu dijaga ketat oleh aparat bersenjata laras panjang lengkap dengan tampang garang, wajar ini adalah wilayah mayoritas Kurdi. Perjalanan kita lanjutkan dengan sedikit teguran keras dari Akhi Jamal IHH, karena waktu istirahat tadi banyak peserta karavan yang hilang, padahal Akhi Jamal telah mengingatkan dengan tegas sejak awal bahwa istirahat hanya sebentar sekedar ke toilet saja.

Berjumpa Dengan Presiden IHH Bulent Yeldrim

Tiga jam kemudian kita tiba di kota Diyarbakir, kota yang juga dihuni mayoritas Kurdi dan keturunan Arab, banyak warga disini yang bisa berbahasa Arab, konon
menurut cerita masyarakat lokal nama Diyarbakir diambil dari nama Abu Bakar
Radhiallahu'anhu.

Kita tiba di tengah kota, sebuah perempatan dengan Masjid di salah satu sudutnya, kita sholat terlebih dahulu, kemudian melebur dengan ribuan orang di perempatan itu, mereka membawa karton-karton berslogan menyemangati perjuangan kaum Muslimin Palestina, bendera La iIlaha Illa Allah, Muhammadar Rasulullahdan foto Asy Syahid Insya AllohAli Heyder Bengi, salah seorang relawan Mavi Marmara yang tewas tertembak, ia berasal dari Diyarbakir.

Suasana saat itu begitu bersemangat seperti di Van, relawan-relawan IHH dari
Diyarbakir membuat border di barisan depan massa memberi ruang pada para
wartawan, panggung setinggi 1,5 meter lengkap dengan sound sistem tempat
bertenggernya para orator diantaranya perwakilan IHH Diyarbakir, Feroze
Mithiborwala dan beberapa pembicara lain. Feroze menyapa hadirin dengan
sapaan,”Wahai kaum Shalahuddin....”, kemudian berpidato tentang semangat
perlawanan untuk membebaskan Al Aqsa, namun penerjemahan orasi Feroze seperti
dipotong dan pidatonya pun dihentikan, pembicara lain pun sangat dibatasi
ketika berbicara. Saya naik ke atas panggung, terlihat di sisi kanan dan depan
pangung para ikhwan sementara di sisi kiri panggung dipenuhi para akhwat
termasuk di dalamnya istri Ali Heyder Bengi, kemudian terjawablah pertanyaan
saya mengapa orasi-orasi itu seakan dibatasi, dibelakang barisan massa terlihat 2 mobil watercanon beserta polisi anti huru-hara menjaga ketat dengan senjata
laras panjangnya, lagi-lagi satu alasan Diyarbakir adalah wilayah mayoritas
Kurdi.

Tepat pukul.16.00 orasi selesai, kami diantar ke gelanggang olah raga DSI Diyarbakir, tempat ini adalah tempat terakhir kami hari itu di Diyarbakir,
kami akan bermalam di stadion itu. Sekitar 1 jam istirahat dan sholat, kita
makan malam bersama, kali ini Subhanallah..doa Akhi Syahril (juru kamera TVone) terkabul, di bus tadi siang beliau bilang,”mudah-mudahan makan malam ini pakai
gulai..”, ternyata benar kami disuguhi lauk ayam gulai khas Turki, ini adalah
pertama kali kami dapat makanan yang ada pedas-pedasnya, Alhamdulillah, di
penghujung makan malam ada tamu penting datang yaitu presiden IHH Fahmi Bulent
Yeldrim, beliau baru tiba langsung dari Istanbul.

Peserta karavan dikumpulkan di dalam lapangan basket DSI, kita mendengarkan wejangan-wejangan dari Bulent Yeldrim yang berbahsa Turki diterjemahkan oleh Ukhti Nalal Dan (salah satu pengurus IHH pusat), diantara isi pesannya adalah para aktivis dalam karavan ini harus sabar dalam menghadapi tekanan ketika melakukan aksi perlawanan untuk Palestina karena pihak yang kita lawan adalah israel yang sangat licik dan tangguh dalam mengagalkan setiap misi untuk Palestina, termasuk juga menghadapi pemerintah Mesir yang hobi mengundur-undur setiap permohonan izin ke Gaza melalui perbatasan Rafah, beliau sendiri pernah tertahan di Latakia
(pelabuhan di Syria) menuju El Arish selama lebih kurang 3 pekan, Subhanallah.

Semua agenda tuntas hari itu, sebelum tidur kita didatangi salah seorang
veteran Mujahid dari Hizbullah Lebanon yang kakinya cacat permanen setelah ikut amaliah bersama Hizbullah, Akhi Niham namanya sosok yang tampak religius,
berjenggot, berpeci dan di saku bajunya terselip mushaf Al Qur'an dan siwak,
kita berbincang sejenak, kemudian saya terkejut ternyata Akhi Niham adalah
Sunni bukan syiah, ini merupakan fakta penting bahwa memang ternyata tidak
semua orang Hizbullah adalah syiah, saya pun teringat ketika perjalanan ke
Diyarbakir kami disambut iring-iringan kendaraan, ada satu kendaraan yang
mengibarkan bendera Hizbullah terlihat dan di dalamnya ada akhwat bercadar,
sementara dari kesimpulan saya dilapangan setiap akhwat bercadar yang ada itu
adalah Sunni bukan syiah mengingat selama 8 hari saya di Iran saya tidak
melihat akhwat bercadar meraka hanya mengenakan abaya panjang berwarna hitam
saja tapi tidak bercadar. Sekali lagi ini fakta menarik semoga menjadi
informasi berharga ketika pulang ke Indonesia nanti, sekarang kita telah siap
memenuhi hak badan untuk istirahat.

Akhir Kunjungan di Wilayah Kurdi, Turki

Ahad, 19 Desember 2010

Pagi seperti biasa, kita sarapan sebongkah roti dan pelengkap lainnya. Pukul.08.30, kita berangkat ziarah ke makam Asy Syahid Ali Heyder Bengi, disana kita berjumpa dengan istri dan anak-anaknya yang berjumlah 5 orang, pagi itu Diyarbakir diguyur hujan sejak dini hari. Kita langsung menuju Gaziantep, sebelum tia di Gaziantep kita jumpa pers di beberapa wilayah diantaranya Uzfa Syverek dan Sanliurfa masih wilayah Kurdi, setiap jumpa pers dikawal ketat oleh aparat bersenjata lengkap, di Sanliurfa kami sempat berbincang dengan penduduk lokal, mereka bercerita bahwa Sanliurfa adalah daerah yang pernah di datangi oleh Nabi Ibrahim, Ilyas, Ayyub 'Alaihimussalam, peserta karavan disuguhi makanan khas penduduk lokal sejenis kolak dengan isi kacang-kacangan. Alhamdulillah,cukup mengganjal perut kali itu mengingat mulai hari kemarin kita bukan hanya menjamak sholat namun juga menjamak makan siang dan makan malam, dalam kelakarnya Pak Cik berkata, “Ini real karavan, bukan hanya sholat dijamak, makan pun dijamak pula...”.

Mulai dari Sanliurfa, satu mobil patroli aparat bersenjata lengkap mengawal kami hingga tiba di Gaziantep, jalur yang kita gunakan ke Gaziantep tepat dekat daerah yang berbatasan dengan utara Irak yang dipenuhi perbukitan batu.

Kumandang adzan Maghrib menyambut kami di Gaziantep kota yang sesak dengan
rusun-rusun seperti di Van, nampaknya model hunian rusun menjadi tren di pusat-pusat kota di Turki. Stadion Sehit Kamil At Taturk Kultur Ve Spor Merkezi adalah tempat jumpa pers dan istirahat terakhir kami di Turki, peserta karavan yang Muslim langsung melaksanakan sholat. Banyak masyarakat yang menyambut,
namun jumpa pers berjalan sangat singkat, para peserta menghabiskan sisa malam
dengan berinternet ria karena terdapat fasilitas wifi di lobinya dan para
peserta memanfaatkan fasilitas itu untuk saling berkirim kabar ke negara
masing-masing.

Selamat Tinggal Turki, Doa Kami Untuk Bangsa Sholahuddin Al Ayyubi

Senin, 20 Desember 2010

Peserta karavan berkemas dan menuju lobi untuk sarapan pagi. Setelah itu kami
langsung bergegas mengangkut barang ke bus untuk berangkat menuju perbatasan
Turki (Killis)-Syria (Allepo). Banyak hal menarik yang bisa kita cermati di
Turki walau waktu kami sangat singkat di negara itu, diantaranya usaha
pemerintah Turki untuk mempertahankan sekulerisme-nya yang luar biasa dengan
cara mengenang bapak sekulerisme mereka melalui gambar maupun patung-patung,
selama 3 hari kami di Turki setiap fasilitas umum yang kami singgahi selalu
terdapat gambar atau patung Mustafa Kamal At Taturk. Hal lain yang bisa kita
cermati adalah sikap aparat polisi maupun tentara yang kami jumpai terlihat
kurang begitu bersahabat dengan karavan, mereka cenderung memandang kami dengan pandangan penuh curiga terlebih di wilayah mayoritas Kurdi. Sepanjang jalan
iring-iringan mobil-mobil yang mendampingi karavan tidak terlihat bendera
negara Turki, yang ada hanya bendera IHH, bendera Palestina, dan
bendera-bendera simbol perlawanan Islam saja, kabar yang kami terima IHH memang organisasi memiliki perselisihan dengan pemerintah Turki seputar
program-program mereka khususnya terkait Palestina.

Para peserta berangsur keluar dari stadion, ada kabar tidak sedap ketika itu,
Ibrahim dan Gudmann dikeluarkan dari karavan, mereka tidak lagi diizinkan ikut
karavan dengan sebab yang belum jelas, intinya Feroze sebagai koordinator karavan memutuskan mengeluarkan mereka, ada yang mengatakan mereka dkeluarkan karena mereka ekstrimis Kurdi, Wallahu'alam,paling tidak ini menjadi bukti bahwa memang ada sesuatu yang tidak adil terkait dengan orang-orang Kurdi.

Kami berangkat dengan kata perpisahan dengan Ibrahim dan Gudmann, 1 jam perjalanan, kami telah tiba di perbatasan Killi-Allepo, waktu menunjukkan pukul 09.40, kita jumpa pers sejenak dan mendengarkan pidato pelepasan dari Akhi
Husen Oruch (Wakil Presiden IHH), kemudian kita masuk kawasan perbatasan mengurus visa dan sebagainya. Selamat tinggal Turki, semoga Islam akan kembali
menyinarimu.

Kita nantikan cerita langsung dari perjalanan Akhi Angga dan rombongan dalam misi kemanusiaannya Asia to Gaza Solidarity Caravan selanjutnya..

Semoga Allah melindungi kalian dan seluruh kaum muslimin di belahan bumi ini :)






Asia to Gaza Solidarity Caravan (Part - 1)

Hampir 2 pekan berlalu tepatnya pada hari rabu 8/12, delegasi Indonesia yang dikirim bertolak ke Iran untuk bergabung dengan misi "Asia to Gaza Solidarity Caravan", sebuah konvoi solidaritas bangsa-bangsa Asia yang bertujuan membuka blokade ilegal Israel terhadap Jalur Gaza menjalankan misinya. Delegasi dari Indonesia mengirimkan beberapa belasan relawan Indonesia, selain dari MER-C. berasal dari beberapa organisasi peduli Palestina seperti "Voice of Palestine", "Aqsa Working Group", "Hilal Ahmar Society Indonesia", serta delegasi dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).

Delegasi asal Indonesia itu bergabung dengan ratusan relawan dari sedikitnya 13 negara Asia untuk bersama-sama melakukan kampanye kemanusiaan di sepanjang rute konvoi yang sudah ditentukan, untuk kemudian berupaya menembus blokade Gaza.

Selain melakukan kampanye, peserta konvoi juga akan membawa sejumlah bahan bantuan yang diperlukan rakyat Gaza. "Asia to Gaza Solidarity Caravan" diorganisir oleh Asian People`s Solidarity for Palestine (APSP). APSP merupakan aliansi dari organisasi masyarakat, gerakan sosial, serikat buruh, dan lembaga masyarakat sipil di Asia.

Tujuan aliansi ini adalah untuk bersama-sama berjuang bagi perdamaian, kebebasan dan martabat manusia melawan pendudukan, imperialisme, apartheid, zionisme dan segala bentuk diskriminasi termasuk diskriminasi agama.

Dan inilah sepenggal kisah salah satu relawan dari "Hilal Ahmar Society Indonesia" akhi Angga Dimas Pershada selama mengikuti misi kemanusiaan Asia to Gaza Solidarity Caravan.

"ALHAMDULILLAH ana dan dr.Misbah, dalam keadaan sehat dan baik, berikut adalah sebagian foto2 kegiatan kami di Tehran dan Kerman (Iran)."

1. Tanggal 9 pukul. 02.55 waktu tehran, kami baru tiba di bandara Internasional imam khomeini, Tehran

2. Perjalanan kami menuju bandara mehrabad untuk penerbangan lokal, kami terbang dengan pesawat Mahan Air menuju ke Kerman-Iran tengah

3. Penyambutan kami yang dilakukan oleh EO lokal khususnya LSM Unified-Ummah di bandara Internasional Imam Khommeini

4. Kegiatan didalam Kerman University yaitu semacam seminar didahului longmarch dari luar kampus menuju lokasi seminar

5. Penyambutan kami dibandara Kerman, disana juga tiba Red Cresent Iran

6. Konferensi Pers perwakilan dari india dan Indonesia yg diwakili oleh Irman Abdurrahman (VoP) di Kerman University
























Ini adalah aktivitas kami di tanggal 10 Des 2010


1.Suasana perjalanan kami dari Kerman ke Yazd didalam bus, perjalanan 5 jam.

2.Susana penyambutan kami di kota Yazd diringi dengan konvoi kendaraan bahkan funbike dari Mehris (kota industri)-Yazd

3.Situasi orasi terbuka di tengah kota Yazd sebelum sholat jumat dihadiri sekitar 1000-an orang dari kalangan tua,muda bahkan anak2 SD dan TK, disana masyarakat meneriakkan yel-yel mengutuk israel dan sesekali mengucapkan pujian-pujian kepada Husein bin Ali RA mmengingat masyarakat syiah di Iran sangat terinspirasi dengan pengorbanan Husein RA dan juga saat2 ini telah dekat masa hari Asyura

4.Suasana Forum lintas agama di Hotel Sheykh Bahaei-Isfahan, dalam forum tersebut yang berbicara adalah gubernur Isfahan, perwakilan masyarakat syiah, pendeta dari kristen katolik, kemudian rabi yahudi, smua berbicara tentang ketidak setujuan mereka terhadap zionisme dan dukungan untuk membebaskan ghaza dari blokade kegiatan selesai sekitar pkl.23.15 malamdan kami bermalam di hotel tersebut(kayaknya bintang 4, lumayan juga ALHAMDULILLAH).










Senin, 08 November 2010

Risalah Dari Balik Jeruji Besi : “Agar Musibah Tetap Berpahala”

Ditengah banyaknya musibah yang melanda negri ini, dengan banyaknya kezoliman yang dilakukan oleh pemimpin negri ini terhadap para pejuang syari’ah, kiranya seluruh kaum muslimin dapat mengambil banyak pelajaran dari azab yang Allah timpakan seolah tak berhenti, dan manusia segera bertaubat dan kembali kepada Allah.

Risalah ini ditulis langsung oleh seorang ikhwan yang kini sedang diuji dan berada di balik jeruji besi (semoga Allah membebaskan seluruh mujahidin), beliau memaparkan bagaimana sikap seorang mukmin ketika musibah menimpa dirinya dan bagaimana saat musibah ini kita tetap mendapat pahala. Semoga risalah dan tazkiroh ini dapat memberikan pencerahan bagi kita semua.



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imron:

(146 )وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

(147)وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ



(148)فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ


Artinya : “Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (146) “Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".(147) “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (148)


Sayyid Quthub rahimahullah ketika mengupas ayat-ayat di atas, beliau mengatakan “Kekalahan pada perang uhud adalah kekalahan yang pertama kali dialami kaum muslimin. Sebelumnya Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka pada perang badar. Seolah sudah tertanam kuat dalam jiwa mereka bahwa kemenangan di segala peperangan itu sudah menjadi ketetapan hukum alam. Oleh karena itu ketika mereka mengalami kekalahan pada perang uhud, mereka terkaget-kaget menghadapi berbagai ujian, seolah mereka tidak membayangkan sebelumnya.


Mungkin ini sebabnya sehingga perang uhud dibahas sangat panjang dalam Al Qur’an. Penuturan itu mengalir terkadang dalam bentuk belas kasihan terhadap kaum muslimin, terkadang pengingkaran, terkadang peneguhan, terkadang dengan memberikan teladan dan terkadang berbentuk tarbiyah bagi jiwa mereka, pelurusan cara pandang mereka dan latihan buat mereka untuk merasakan masa yang akan datang. Karena jalan di hadapan mereka amatlah panjang. Peristiwa-peristiwa yang akan mereka hadapi amatlah berat. Pengorbanan yang harus mereka kerahkan sangatlah besar dan cita-cita yang hendak mereka raih sangatlah agung.


Teladan yang diberikan dalam ayat ini merupakan teladan yang bersifat umum. Tidak hanya seorang Nabi tertentu atau kaum tertentu saja. Allah hendak mempertautkan kaum muslimin dengan kafilah orang-orang beriman dan hendak mengajarkan kepada mereka adab orang-orang beriman. Allah hendak menggambarkan kepada mereka bahwa ujian itu adalah sebuah kepastian yang berlaku untuk semua dakwah, dan semua agama. Allah hendak mempertautkan mereka dengan para pendahulu mereka, pengikut para Nabi untuk menancapkan dalam indera mereka bahwa orang-orang beriman itu dekat dengan orang-orang beriman, juga menanamkan dalam hati mereka bahwa urusan aqidah itu satu. Bahwa mereka adalah bagian dari satu pasukan iman yang besar!


وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Q.S 3 : 146)


….Berapa saja Nabi yang telah berperang bersamanya jama’ah yang banyak, jiwa mereka tidak lemah menghadapi ujian, kesedihan, kesusahan dan luka-luka. Kekuatan mereka tidak luntur untuk terus berjuang dan mereka tidak tunduk kepada musuh karena tidak sabar. Inilah kondisi orang-orang beriman yang memperjuangkan aqidah dan agamanya.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.”



Orang-orang yang tidak lemah jiwa mereka, tidak pudar semangat mereka dan tidak luntur kekuatan mereka ataupun menyerah. Ungkapan cinta dari Allah untuk orang-orang yang sabar ini mengandung kecintaan yang mengobati luka, menghapus duka, serta melupakan kesusahan, kepedihan dan perjuangan yang pahit.



Sampai disini penjelasan ini telah membuat sebuah gambaran yang jelas bagi orang-orang beriman tentang posisi mereka dari ujian dan kesusahan. Kemudian dilanjutkan dengan menggambarkan kondisi yang tersembunyi dalam jiwa dan perasaan mereka. Sebuah gambaran adab terhadap Allah disaat mereka menghadapi situasi yang mencekam yang mengguncang jiwa dan marabahaya yang membelenggunya. Namun semua itu tidak dapat memalingkan jiwa orang-orang beriman untuk menghadap Allah. Bukan pertolongan yang pertama kali mereka minta. Padahal inilah yang pertama muncul dalam jiwa manusia biasanya. Akan tetapi yang mereka minta adalah maaf dan ampunan. Mengakui dosa dan kesalahan sebelum meminta keteguhan dan pertolongan menghadapi musuh.


وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tidak ada yang mereka ucapkan selain : "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".



Mereka tidak meminta kenikmatan atau kekayaan. Bahkan mereka tidak meminta pahala dan balasan. Tidak meminta balasan di dunia maupun diakhirat. Mereka sangat beradab terhadap Allah dalam berdoa kepada-Nya ketika mereka berperang di jalan Allah. Tidak ada yang mereka minta dari-Nya selain pengampunan dosa dan peneguhan kaki serta bantuan untuk mengalahkan orang-orang kafir. Sampai-sampai bantuanpun tidak mereka minta untuk diri mereka sendiri, tetapi yang mereka minta adalah kekalahan untuk orang-orang kafir sebagai hukuman atas kekafiran mereka. Ini adalah adab yang sangat patut bagi orang-orang beriman terhadap Allah yang Maha Mulia.



Mereka tidak meminta sesuatupun untuk diri mereka sendiri. Maka Allah pun berikan kepada mereka segala sesuatu yang menjadi angan-angan para pencari dunia bahkan lebih. Allah juga berikan kepada mereka apa yang menjadi angan-angan pencari akhirat :


فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ


“Maka Allah beri mereka balasan di dunia dan sebaik-baik balasan di akhirat.”



Allah subhanahu wa ta’ala juga memberi kesaksian bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka telah beradab secara baik, berjihad secara baik dan Allah telah mengatakan cinta-Nya kepada mereka. Ini lebih besar dari kenikmatan dan pahala.


وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”



Sampai disini pemaparan itu berakhir. Ia mengandung berbagai hakikat besar dalam pandangan Islam. Episode kali ini telah menjalankan sebuah tarbiyah kepada sebuah jama’ah Islam. Sebuah jama’ah yang dipersiapkan untuk ummat Islam pada seluruh generasi (Fi Dzilalalil Qur’an).

Maka, marilah kita ikhlaskan apa yang telah terjadi dengan berharap pahala di sisi Allah, jangan terkecoh dengan orang-orang menyerah yang lebih mementingkan kesenangan dunia daripada iman dan Islam. Marilah kita jujur terhadap Rabb kita. Mari satukan barisan dan rapikan program. Semoga kita dapat merasakan kegembiraan dengan kemenangan suatu saat nanti.

(Ar Ruum : 4) وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya : "Pada hari itu orang-orang beriman bergembira"



Wallahu Musta’an


Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9830/risalah-dari-balik-jeruji-besi-agar-musibah-tetap-berpalaha#ixzz14i7V1PE3

Manhaj Qoth’i Ini (Qital) dan Usaha Musuh Memandulkannya

Risalah ini merupakan pesan sekaligus tazkiroh yang sangat berharga buat kita semua yang memilih jalan tauhid dan jihad. Risalah dari balik jeruji besi, yang ditulis langsung oleh ikhwan yang sekarang merasakan nikmat dari sebuah prinsip dan pengorbanan yang menjadi pilihannya. Prinsip bukanlah benda mati yang tertera di dalam buku-buku atau terpendam di dalam hati. Prinsip adalah sesuatu yang hidup di dunia nyata, meski kita tidak menyadarinya. Jika antum ingin mengetahui harga sebuah prinsip bagi seseorang. Lihatlah sejauh mana pengorbanannya terhadap prinsip tersebut.


Kata-kata di atas sempat menyita perhatian saya. Sebuah kata-kata yang menyimpan makna mendalam yang tidak dapat dipahami oleh selain orang yang memiliki prinsip yang kuat dan nilai yang tinggi lagi mulia. Alangkah indah kata-kata yang diucapkan penyair berikut :

“Barangsiapa memiliki tekad kuat untuk meraih kemuliaan..
Apa saja yang dihadapi dalam memperjuangkannya terasa nikmat..”


Saya teringat dengan kisah Al Mutanabbi yang membayar mahal untuk sebuah bait syair yang dia ucapkan ketika dia hendak menyelematkan diri dari orang-orang yang hendak membunuhnya anaknya berkata kepadanya : “Bukankah engkau telah mengatakan, Aku dikenal pemberani oleh kuda, malam, padang sahara, pedang, tombak, kertas dan pena.

Demi mendengar itu, ia pun tidak jadi lari. Dia kembali untuk berperang sampai terbunuh. Hanya supaya tidak dikatakan pengecut. Lain lagi Abu Jahal dia ingin sekali membunuh Muhammad S.A.W. Dia mencari-cari waktu yang tepat untuk melaksanakan keinginannya tersebut. Dia telah kerahkan segala kemampuannya untuk membunuh orang yang telah merubah tatanan masyarakatnya. Namun begitu dia tetap tidak mau mengorbankan prinsipnya, demi menjaga wibawa dan kehormatannya. Meski untuk itu ia harus kehilangan berbagai kesempatan emas untuk melaksanakan keinginannya itu. Salah seorang pengikutnya mengatakan kepadanya : “Kenapa kita tidak datangi saja Muhammad ke rumahnya lalu kita bunuh, daripada kita terus diam saja” Abu Jahal menjawab “Supaya bangsa Arab tidak mengatakan bahwa kita telah membunuh anak kabilah kita sendiri.”

Inilah sepenggal kisah orang-orang yang memegang prinsip. Berapa banyak orang sanggup menderita atau menahan kesenangan dan hawa nafsunya demi prinsip yang mereka miliki, padahal itu hanya prinsip yang mereka miliki, padahal itu hanya prinsip duniawi. Namun karena mereka merasa mulia dan punya wibawa sehingga kalau mereka melakukan tindakan-tindakan hina yang tidak pantas dilakukan orang yang jantan, mereka khawatir akan hina dimata orang, maka mereka sanggup berkorban dan menahan diri. Kalau begitu apa kiranya yang pantas kita katakana kepada orang yang justru mengorbankan bahkan menjual harga dirinya atau negrinya atau agamanya atau saudara-saudaranya dengan beberapa keeping uang atau kesenangannya atau jabatan?

Jika perjuangan untuk sebuah prinsip yang tujuannya hanya untuk menjaga gengsi dan wibawa, serta supaya tidak direndahkan orang itu saja seperti ini. Lalu bagaimana kiranya jika prinsip yang diperjuangkan itu berkaitan dengan agama dan kepentingan akhirat.

Dahulu ketika Sa’ad bin Abi Waqqosh masuk Islam ia mendapat tekanan dari ibunya agar dia meninggalkan agama barunya itu. Ibunya pun mogok makan. Pada saat itu Sa’ad mengatakan kepada ibunya “Wahai ibu, andaikan ibu punya 100 nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, aku takkan meninggalkan agamaku, maka terserah ibu, mau makan atau tidak.”

Ada lagi An Nablusi. Seorang penguasa Daulah Fathimiyah yang kafir memanggilnya, lalu mengatakan kepadanya “Benarkah kamu mengatakan jika aku punya 10 anak panah akan ku gunakan 9 buah untuk membidik orang Nasrani dan 1 buah untuk membidik orang-orang Fathimiyah?.” An Nablusi menjawab “Aku tidak mengatakan seperti itu yang aku katakan adalah jika aku punya 10 anak panah akan ku gunakan 9 buah untuk membidik kalian dan 1 buah untuk orang-orang Nasrani.” Kemudian An Nablusi dikuliti dari kepalanya ketika sampai daerah jantung ia ditusuk.

Dalam kisah lain, Sholeh Ismail penguasa Damaskus meminta bantuan kepada bangsa salibis untuk memerangi Najmuddin Ayyub yang memerintahkan Mesir. Dan sebagai imbalannya, Sholeh Ismail sanggup memberikan persenjataan dan mempersilahkan bangsa salibis itu untuk masuk Damaskus. Hal itu diketahui oleh Al ‘Izz bin Abdis Salam. Ini adalah pengkhianatan yang dilakukan Sultan Sholeh.

Al ‘Izz pun segera naik mimbar dan menjelaskan tentang tercelanya memberikan loyalitas kepada musuh dan hinanya sebuah pengkhianatan. Demi mendengar itu Sultan Sholeh segera memerintahkan untuk menangkap Al ‘Izz dan mengasingkannya. Melihat kejadian itu rakyatpun mendatangi Sultan dan memprotesnya. Maka Sultan pun mengirim utusan kepada Al ‘Izz ditempat pengasingannya. Utusan itu mengatakan kepadanya “Tuanku meminta agar engkau kembali. Hanya engkau harus mencium tangannya.”

Al ‘Izz dengan tegas menjawab “Wahai orang yang malang, kembalilah dan katakana kepada tuanmu ‘Al ‘Izz itu demi Allah tidak mau engkau cium kakinya, lalu bagaimana mungkin dia mau mencium tanganmu, Wahai orang yang malang! Dunia kalian lain dengan dunia kami.”

Diantara yang teguh memegang prinsip lainnya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Beliau mengisahkan “Berkali-kali saya tidak sadarkan diri. Jika saya tidak lagi dipukul baru saya sadar kembali. Dan pukulan itu tidak ada hentinya kecuali saya telah tumbang.”

Namun beliau tetap teguh diatas prinsipnya sampai akhirnya Allah memenangkan sunnah melalui perantara beliau.

Kalau mau dikisahkan semua orang-orang yang memegang prinsip pasti banyak sekali dan akan menghabiskan banyak halaman. Namun ini cukup untuk menjelaskan bahwa orang-orang yang mau menjual prinsip mereka dengan harga yang murah namun ia berlagak mengajak kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Sesungguhnya mereka itu ibarat laba-laba yang membuat sarang dan rumah laba-laba yang paling rapuh.

Ikhwah fillah!

Marilah kita teguhkan pendirian kita. Jangan seperti bunglon atau beo. Jika orang itu baik ikut baik, jika orang itu tidak baik, juga ikut tidak baik. Mari kita membiasakan untuk berdoa : “Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami dalam mentaati-Mu. Ya Allah, jika Engkau hendak menyesatkan suatu kaum maka cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak tersesat!”


Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9705/risalah-dari-balik-jeruji-besi-prinsip-perlu-bukti-dan-pengorbanan#ixzz14i2vZ9Vg

Perampokan Untuk Jihad : Antara Pandangan Al Qaeda dan Aksi Para Pengagumnya Di Indonesia


Aksi merampok untuk jihad, alias menjadikan harta hasil rampokan sebagai harta fa'i, belakangan ini ramai diperbincangkan. Tidak hanya aparat keamanan yang ikut sibuk membahas dan menerangkan istilah fa'i, berbagai kalangan dan aktivis harakah Islam juga urun rembuk membahasnya. Ada yang pro ada yang kontra. Berikut artikel yang membahas harta fa'i  perspektif Al Qaeda dan para pendukungnya. 

Kita telah sama-sama mendengar adanya informasi dari media-media fasik nan kufur bahwa telah terjadi perampokan dengan motif mencari dana untuk membiayai aksi teror (jihad). Opini sengaja dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadikan citra buruk bagi para Mujahid. Pada kesempatan ini kita akan membahas bagaimana kedudukan merampok (mengambil fa'i) untuk membiayai jihad dengan asumsi jika benar pelaku perampokkan adalah Mujahidin yang ingin mengikuti jejak Tanzhim Qoidatul Jihad (Al Qaeda) dalam melancarkan aksi jihad.

Sebelum kita membahas asumsi bahwa pelakunya adalah Mujahidin, tidak ada salahnya kita menengok sejenak teori konspirasi dalam kasus ini, mengingat masih hangat perbincangan seputar rangkaian kasus Aceh yang sarat dengan konspirasi bersamaan munculnya sosok kontroversial Sofyan Tsauri. Untuk kasus perampokan ini ada beberapa analisa diantaranya,

1.Kasus tersebut adalah buatan aparat pemerintah dalam hal ini gabungan TNI/POLRI dengan institusi nasional antiteror yang dipimpin Ansyad Embay, kepentingan mereka membuat kasus ini adalah untuk membentuk opini sedemikian rupa di masyarakat akan bahayanya para "teroris" yang semakin hari semakin menjadi, padahal Densus 88 sudah bekerja keras menangkapi bahkan membunuhi mereka yang diduga "teroris" sampai yang tidak jelas identitasnya pun dibunuh (seperti dua orang korban penembakan cawang) sehingga mereka mempunyai alasan kuat dan berharap dukungan masyarakat yang telah dibuat ketakutan oleh mereka untuk kembali memberlakukan sejenis UU subversi seperti pada masa Orba, namun itu khusus berlaku bagi gerakan Islam yang berpotensi memusuhi negara sementara gerakan ideologi lain seperti komunis tidak perlu diberlakukan UU tersebut karena faktanya aktivis-aktivis berpaham komunis dibiarkan berkeliaran menyebarkan pahamnya di kampus maupun masyarakat dengan kedok LSM-LSM sosial. Hal ini terlihat melalui statement-statement Ansyad Embay sebagai komandan antiteror nasional yang provokatif mengarahkan untuk kembali memberlakukan UU sejenis subversi pada masa Orba dimulai dengan mengawasi masjid-masjid yang dianggap tempat perekrutan para "teroris", disamping itu TVone sebagai "TV Polisi" juga tidak kalah membentuk opini serupa dengan mewawancara Sudomo mantan Pangkopkamtib pada masa Orba dalam rangka membeberkan "kesuksesannya" menjaga keamanan NKRI.

2.Kasus itu adalah buatan TNI karena merasa dianaktirikan dalam upaya penanggulangan teror di Indonesia, sementara POLRI bagaikan pahlawan terdepan dalam memerangi terorisme, tentu juga ditambah dengan dana jutaan dolar yang didapat POLRI dari AS dan sekutunya. Hal ini menyebabkan TNI perlu membentuk opini bahwa POLRI belum cukup untuk menanggulangi teror dengan membuat kasus tersebut sehingga kelak TNI akan dilibatkan. Benang merah bisa kita lihat dengan digelarnya latihan gabungan antiteror Kopassus dengan pasukan elit Australia di Bali baru-baru ini. Perlu juga diingat bahwa dua institusi ini (TNI/POLRI) memiliki track record seperti Tom & Jerry yang sampai hari ini belum ada kata damai permanen diantara keduanya.

3.Kasus ini buatan POLRI sendiri dalam rangka memelihara sosok mengerikan yang bernama teroris agar proyek POLRI ini terus mendapat kucuran dana dari AS dan sekutunya, salah satu yang menguatkan analisa ini adalah POLRI dalam waktu singkat langsung memiliki foto dengan gambar yang cukup fokus sangat tidak mungkin hanya diambil dari CCTV karena gambarnya cukup jernih dan dari beberapa sisi dengan asumsi jarak pengambilan foto lebih kurang 15-20 meter dari lokasi kejadian, siapa yang mengambil foto dengan sangat bagus itu ? Bisa jadi itu adalah adegan narsis-nya polisi yang berlagak sebagai perampok minta difoto oleh temannya sendiri.

Tiga analisa diatas cukup mewakili para penganut madzhab konspirasi disamping banyak analisa-analisa lain seputar kasus ini. Namun tidak adil selalu memandang kasus dari kacamata ini karena seakan menunjukkan bahwa kita mengakui bola pertarungan selalu berada di tangan musuh yang membuat mereka bebas memainkannya. Sekarang kita kembali kepada asumsi awal yaitu jika pelakunya adalah Mujahidin.

Akar Pemahaman Munculnya Aksi Perampokan (Mengambil Fa'i)

Dari beberapa kasus amaliyah jihadiyah di negri ini, mulai pengeboman, pelatihan militer sampai perampokan dalam rangka mengambil fa'i selalu memunculkan dikotomi awal yaitu yang memandang negara ini adalah daerah konflik (daerah dimana ada batasan jelas antara siapa kawan siapa lawan) dan daerah nonkonflik. Mereka yang gencar melakasanakan amaliyah jihadiyah mengatakan bahwa Indonesia adalah daerah konflik mengacu kepada ijtihad perang global yang dilancarkan Al Qaeda karenanya wajib melaksanakan amaliyah jihadiyah mengingat pula hukum jihad telah menjadi fardhu'ain hari ini.

Pihak yang berpendapat Indonesia bukan daerah konflik mengatakan bahwa Indonesia belum saatnya melaksanakan amaliyah jihadiyah dengan mengamati realitas situasi dan kondisi Indonesia tanpa menolak adanya fatwa Al Qaeda dan konsep umum bahwa jihad telah menjadi fardhu'ain dengan dijajahnya negri-negri kaum Muslimin oleh kaum kuffar berikut antek-anteknya dari penguasa lokal. Titik masalahnya adalah hanya persoalan waktu dan kondisi yang tepat serta terukur untuk medeklarasikan jihad melawan thaghut internasional maupun thaghut nasional dalam rangka Iqomatuddin.

Ketika terjadi perbedaan ini maka konsekuensi berikutnya dalam memandang suatu hukum terkait persoalan jihad pun akan berbeda termasuk mengambil fa'i. Bagi mereka yang memandang Indonesia termasuk daerah konflik maka jelas mengambil fa'i tidak diragukan kehalalannya, sementara bagi yang memandang Indonesia bukan daerah konflik maka mengambil fa'i perlu ditinjau ulang (walaupun pengambilan fa'i tidak disyaratkan harus dalam kondisi terjadinya perang) mengingat di Indonesia terdapat kemungkinan tercampurnya harta orang mukmin dan orang kafir di lembaga-lembaga usaha seperti Bank dan lain-lain, kemudian fakta di Indonesia masih terus berjalan proses tarbiyah kepada umat dalam mengenalkan Islam yang kaffah setelah umat dibuat apriori selama 32 tahun tentang wacana syari'at Islam, tentunya pada tahapan ini kita perlu mempertimbangkan mudharat yang dapat menggangu proses tarbiyah ini dengan munculnya aksi pengambilan fa'i dimana umat Islam masih banyak yang belum memahami persoalan fa'i kemudian akhirnya musuh Islam pun dapat celah untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap gerakan Islam, konsekuensinya proses tarbiyah semakin berat dengan bertambahnya syubhat besar di tengah umat.

Halalnya Mengambil Fa'i Dalam Islam

Fa'i secara bahasa mengandung makna mengembalikan atau mengumpulkan. Secara syar'i bermakna segala apa yang dirampas dari orang kafir tanpa melalui perang seperti harta yang ditinggal lari oleh orang kafir karena ketakutan, termasuk harta ahli dzimmah yang tidak memiiliki ahli waris. (Al Jihadu Sabiluna, Abdul Baqi' Ramdhun)

Dalam konteks ini maka harta orang kafir diluar kafir dizimmi (kafir yang tunduk kepada pemerintah Islam dan membayar jizyah), kafir musta'man (kafir yang dapat jaminan keamanan), kafir mu'ahad (kafir yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin) menjadi halal untuk diambil sebagai fa'i dengan tetap memperhatikan batasan-batasan syar'i (disini tidak cukup untuk membahasnya lebih detail)

Diantara dalilnya adalah,

وَمَا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ




 مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya"
( Al Hasyr 6 -7)

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa alokasi fa'i adalah untuk kemashlahatan kaum Muslimin termasuk di dalamnya jihad yang merupakan sarana untuk memperoleh kemashlahat kaum Muslimin dari rongrongan musuh-musuhnya.Tentunya berdasarkan konteks ini pertimbangan mashlahat dan mudharat menjadi penting untuk diperhatikan.

Diantara Dalil Para Mujahidin Lokal Dalam Melancarkan Perampokan

Dalil yang cukup kuat sebagai dasar oleh Mujahidin (sekali lagi kalau benar pelakunya mereka) dalam melakukan aksi perampokkan adalah kisah Abu Basyir dan Abu Jandal serta tim mereka Radhiallahu'anhum Ajma'in, ketika mereka tidak dapat memasuki Madinah pasca perjanjian Hudaibiyah mereka akhirnya membuat camp di dekat pantai, kemudian setiap orang yang lari dari Mekkah bergabung dengan mereka dengan sebab tidak dapat masuk Madinah. Selama mereka mendiami tempat itu tidak ada satu pun orang musyrikin Quraisy yang melewati tempat itu melainkan mereka bunuh dan rampas hartanya, hingga kemudian Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam mengizinkan mereka masuk Madinah atas keluhan orang musyrik Quraisy karena keamanan mereka terancam. (Shahih Bukhari I/378-381, Shahih Muslim II/140,105-106, Sirah Ibnu Hisyam II/308-322, Zadul Ma'ad II/122-127)

Dalam Kisah tersebut bukan berarti dihalalkan mengingkari perjanjian dengan orang kafir karena Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam tetap tidak mengizinkan Abu Basyir Radhiallahu'anhu di Madinah, dengan mengatakan "Celaka, ia bisa menjadi pemicu peperangan bila mempunyai satu teman lagi" ketika salah seorang Quraisy yang menangkap Abu Basyir mengadu kepada Nabi Shalallahu'alaihi Wasallam karena temannya telah dibunuh oleh Abu Basyir, maka Abu Basyir Radhiallahu'anhu sadar bahwa Nabi Shalallahu'alaihi Wasallam tetap tidak mengizinkannya masuk Madinah dengan kalimat tersebut, dengan kata lain Abu Basyir diluar tanggung jawab Nabi Shalallahu'alaihi Wasallam, bahkan sebaliknya itu merupakan tanggungjawab musyirikin Mekkah untuk menangkapnya bila mampu. Dari kalimat Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam di atas pun dapat kita ambil nilai penting yaitu setiap model aksi (seperti yang dilakukan Abu Basyir Radhiallahu'anhu) perlu melihat pertimbangan politis jangan sampai memicu peperangan yang bisa jadi dalam suatu kondisi merugikan kaum Muslimin secara umum.

Berkaitan dengan kasus perampokan Bank di negri ini, penggunaan kisah Abu Basyir Radhiallahu'anhu sebagai dalil perlu penelitian ulang mengingat kondisi Abu Basyir Radhiallahu'anhu sebagai bagian dari kaum Muslimin ketika itu jelas memandang musyrikin Quraisy sebagai musuh sesuai fakta bahwa telah terjadi dua peperangan besar (Badar dan Uhud) sebelumnya antara kaum Muslimin dan musyrikin Quraisy, adapun dalam konteks realitas Indonesia, menyimpulkan bahwa Bank khususnya CIMB Niaga sebagai bagian dari musuh merupakan kesimpulan yang terlalu dini.

Pandangan Al Qaeda Dalam Masalah Fa'i

Sebuah realitas yang sulit dibantah bahwa ujung tombak gerakan Islam internasional yang konsern dalam masalah jihad dan menjadi inspirasi berbagai macam gerakan jihadi di berbagi negri adalah Al Qaeda, pun demikian di Indonesia berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dari publikasi-publikasi Mujahidin lokal seputar inspirasi perlawanan mereka yang berasal dari Tanzhim Qo'idatul Jihad (Al Qaeda). Berdasarkan fakta ini, perlu kiranya kita melihat bagaimana cara pandang salah seorang anasirnya yang cukup mewakili pemikiran Al Qaeda yaitu Qodatul Mujahidin Asy Syaikh Abu Mus'ab As Sury Fakkallahu Asroh dalam kitabnya yang fenomenal Da'watul Muqowwama Al 'Alamiyah Al Islamiyah, berikut kutipannya,

Sebelumnya telah kami sebutkan Bab tentang hukum-hukum jihad secara syar'i di Bab ketiga, yaitu Bab Pendidikan Yang Sempurna Bagi Seorang Mujahid. Oleh karena itu, di sini kami singgung sedikit tanpa harus merinci kembali. Kami katakan, Hukum-hukum jihad ini disandarkan kepada fakta syar'i yang sekarang terjadi di negeri-negeri Muslim, penjelasannya juga sudah dibahas pada pasal kedua yaitu pasal Hukum Syar'i Yang Berlaku Pada Realita Kaum Muslimin Hari ini.

Intinya: pemerintahan-pemerintahan yang sekarang tegak di negara-negara Arab dan Islam hari ini statusnya adalah pemerintahan yang tidak syar'i dan gugur disebabkan murtadnya para penguasa tersebut yang loyal kepada orang-orang kafir, berhukum kepada selain yang Alloh turunkan, membuat syariat (undang-undang) yang menyelisihi syariat Alloh, serta sebab-sebab lain yang semakin menguatkan status hukum ini.

Atas dasar itu, disimpulkan mengenai beberapa hukum:

1.Halalnya harta pemerintahan yang murtad dan aset-aset umum yang mereka miliki, serta aset-aset para tokohnya.

2.Halalnya harta semua orang kafir asing yang ada di negri kaum Muslimin, sebab jaminan keamanan mereka gugur (tidak berlaku secara syar'i) seiring dengan gugurnya keabsahan pemerintahan yang ada secara syar'i sehingga pemerintah ini tidak berhak memberi jaminan keamanan dan perlindungan, atau menjalin ikatan perjanjian dan kesepakatan dengan orang-orang kafir.

3.Halalnya harta semua non-muslim yang tinggal di negeri kaum Muslimin, dengan sebab yang sama dengan point sebelumnya.

4.Halalnya harta orang-orang murtad, yaitu mereka yang secara terang-terangan menyatakan kerja sama mereka dengan tentara pendudukan serta membantu mereka dalam memusuhi kaum Muslimin.

5.Halalnya harta orang-orang kafir yang tinggal di negara harbiy (yang memerangi kaum Muslimin), karena status perang antara kita dan mereka telah tegak, dan tidak adanya perjanjian antara mereka dengan pihak pemerintahan Islam yang syar'i yang mengharuskan rakyat (kaum Muslimin) menepati janji tersebut. Inilah gambaran secara umum.

Untuk keterangan berdasarkan syar'i secara lebih terperinci bisa dilihat kembali pasal khusus tentang itu, seperti telah disebutkan, demikian juga penjelasan rinci tentang kepentingan-kepentingan dari segi politis ketika menghindari penyerangan terhadap sebagian target yang semula akan diserang.

Dan di sini saya mengingatkan beberapa hal yang penting:

1.Haramnya (secara tegas) harta dan darah kaum Muslimin di manapun mereka berada, baik di negeri Muslim atau di negeri kafir, sebesar apapun kefasikan, kemaksiatan dan kekurangan yang mereka miliki, bahkan ketika ada keraguan tentang pokok iman (ashlul Iman) yang mereka miliki sekalipun, sebab keraguan tidak menghilangkan rasa yakin. Yakin di sini adalah mereka sudah bersyahadat La ilaha illalloh Muhammad Rosululloh. Oleh karena itu, harus dihindari betul dalam hal mengenai darah, harta dan kehormatan kaum Muslimin, sebab semua ini adalah haram dan suci.

2.Siapa yang memiliki hubungan pribadi dengan orang kafir, baik berupa akad atau pernjanjian untuk memberikan jaminan keamanan, maka ia tidak boleh membatalkan janjinya, atau jaminan perlindungan dan keamanannya, baik dia berada di negeri Muslim maupun negeri kafir. Alloh Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
"Hai orang-orang yang beriman, tepatilah janji-janji." (Al-Maidah 1)

 وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً

"...dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawaban." (Al-Isro'34)

3.Jaminan keamanan para pemimpin Jihad dan kaum Muslimin, jika mereka berada di daerah kekuasaan orang-orang kafir, maka jaminan itu harus dihormati. Para anggota juga harus memenuhi jaminan perlindungan dan keamanan yang diberikan oleh para pemimpin mereka kepada orang-orang kafir.

4.Yang saya sebutkan ini tadi adalah hukum kehalalan harta orang-orang kafir dan murtad secara syar'i berikut syarat-syaratnya. Adapun penerapan hukum-hukum ini dan memperlakukan status ghonimah kepada harta mereka, maka harus dijalankan setelah dilakukan kajian tentang maslahat dan mafsadah dari sisi politis ketika hendak menyerang suatu target di suatu lokasi dan di waktu tertentu. Jika ternyata hal itu mengakibatkan kerusakan nyata terhadap Islam dan kaum Muslimin, maka operasi penyerangan itu haram dilakukan. Bukan karena pada aslinya haram, namun karena adanya kerusakan yang ditimbulkan.

Untuk orang yang tidak mengetahui perkiraan-perkiraan seperti ini, maka ia tidak boleh terjun tanpa ilmu. Tetapi ia harus bertanya kepada ulama yang ia percaya, yaitu orang-orang yang mengerti hukum-hukum syar'i dan politik yang benar menurut syar'i, yang keislaman, pemahanan dan jihadnya bisa dipercaya.

Kemudian Syaikh Abu Mus'ab As Sury berkata,

Kembali ke konteks pembahasan, kami katakan bahwa sumber pendanaan utama tim-tim perlawanan Islam global setelah dari harta pribadi mujahidin dan sumbangan-sumbangan tak bersyarat dari muhsinin yang baik, adalah dari ghonimah dan fai yang berasal dari :

1.Harta orang-orang kafir harby yang tinggal di negeri mereka sendiri atau di negeri kita.

2.Harta pemerintah murtad yang bekerja sama dengan pasukan penjajah, dengan tetap berhati-hati jangan sampai tertumpah darah kaum Muslimin yang bekerja di aset-aset mereka tersebut.

3.Orang-orang yang terbukti kemurtadannya, karena memberikan kesetiaan dan bantuan kepada orang-orang kafir dalam rangka memerangi kaum Muslimin. Harta orang-orang ini adalah halal, sama dengan status darahnya. Sebab mereka telah melakukan perbuatan riddah. Selesai kutipan dari Da'watul Muqowwama Al 'Alamiyah Al Islamiyah.

Dari kutipan di atas jelas terlihat bagaimana pandangan seorang tokoh Al Qaeda seputar pelaksanaan aksi mengambil fa'i, dimana sekelas Al Qaeda saja begitu berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam melancarkan aksi tersebut.

Perlu penelitian yang mendetail jangan sampai ada harta kaum Muslimin (ahlul kiblat) yang ikut terambil dalam melancarkan aksi atau bahkan ada orang Muslim yang terbunuh. Terlebih di negri seperti Indonesia yang mayoritas Muslim secara zhahir maka perlu kehati-hatian tingkat tinggi mengingat sekalipun PNS (Pegawai Negri Sipil) misalnya tidak bisa langsung kita vonis murtad dan halal hartanya, begitu pula Bank yang sangat dimungkinkan tercampurnya harta kaum Muslimin dan orang kafir meskipun Bank tersebut adalah Bank riba karena riba adalah kemaksiatan bukan kekufuran yang menyebabkan orang-orang yang melaksanakannya bisa dihalalkan harta dan darahnya.

Jihad Global Fardhu'ain, Menelisik Maksud Seruan Qodatul Mujahidin Al Qaeda

Pada pembahasan di atas telah disinggung sedikit latarbelakang paham maraknya amaliyah jihadiyah di Indonesia yaitu seruan jihad global yang fardhu'ain, sampai kemudian sebagian orang memudahkan diri dalam mengambil fa'i (merampok orang atau pihak yang dinilai musuh dan kafir) untuk membiayai jihad yang fardhu'ain ini.

Dalam bagian ini mari kita simak kutipan fatwa Asy Syaikh Abu Abdurrahman Athiyatullah Al Libbiy Hafizhahullah, seorang ulama yang konsern di bidang kajian ilmiyah untuk Tanzhim Qoidatul Jihad (Al Qaeda) mengikuti peran pendahulu beliau Asy Syahid Syaikhul Battar Yusuf bin Sholih Al 'Uyairiy Rahimahullah, seputar makna dari jihad fardhu'ain dalam risalahnya Ajwibah fi Hukmi An Nafir Wa Syartil Mutashoddi Lit Takfir yang dipublikasi oleh Media Nukhbatul I'lam Al Jihad.

Asy Syaikh ditanya,

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Syaikhuna Al Karim (guru kami yang mulia), demi Allah saya mencintai Anda karena Allah

Guru kami yang mulia, saya mempunyai beberapa masalah, Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang ikhwah (ia pernah berjihad di Afghanistan setelah peristiwa 11 September) mengenai masalah pergi berjihad dan hukumnya. Saya sebutkan bahwa hukumnya fardhu 'ain. Ia berkata, "Apakah mujahidin membutukanmu sebagai seorang pribadi?. Yang saya tahu mereka lebih membutuhkan dana daripada orang. Bahkan sebaliknya. Sepekan yang lalu saya berkomunikasi dengan salah seorang ikhwah. Ia menyebutkan baru saja selesai tadrib. Di sana sudah enam bulanan tanpa pernah turun ikut pertempuran. Ditawari ikut amaliyah istisyhadiyah tapi tidak berminat. Sampai sekarang belum pernah turun ke medan pertempuran."

Apakah perkataannya benar?? Apabila demikian halnya, apakah hukum pergi berjihad fardhu 'ain atau fardhu kifayah? Apabila perkataannya tidak benar, apakah hukumnya fardhu 'ain? Dan apakah saya harus minta izin kepada kedua orang tua atau tidak perlu?

Asy Syaikh Abu Abdurrahman menjawab,

Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Wa ahabbakallah alladzi ahbabtani fih (semoga Allah mencintaimu, Dzat yang membuatmu mencintaiku karena-Nya). Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya. Wa ba'du,

Ya, pada fase ini (saya tegaskan "pada fase ini", karena bisa jadi ini berubah pada fase yang lain), mujahidin di Afghanistan dan Pakistan tidak membutuhkan mujahid muqatil dalam jumlah besar.

Alhamdulillah, jumlah mujahid muqatil yang ada dari kalangan muhajirin dan anshar (penduduk setempat) banyak sekali. Tetapi, ini disebabkan kemampuan medan dan sistem jihadnya (jamaah-jamaah jihad yang eksis di sana) yang bisa menyerap orang-orang dari sisi mempersenjatai, memberikan pelatihan, pengajaran, pemahaman agama, dan peningkatan kualitas mereka secara psikologis dan kesadaran, dst. Bahkan daya serap mereka dari sisi: pemberian tempat tinggal, jaminan hidup dalam arti biaya makan, minum, dst.
Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban), Al-Qaida, atau organisasi jihad lainnya tidak memiliki kemampuan menyerap dalam jumlah yang banyak sekali. Oleh karena sebab ini, yaitu tidak adanya kemampuan finansial dan yang serupa, dan sampai masalah kemampuan berkaitan dengan kondisi geografis. Oleh karena itu kami memandang, kita sedang ada di fase seleksi dan pemilihan. Maka kami ajak kader-kader khusus (spesialis) yang pertama kali dibutuhkan jihad. Kemudian, muqatil biasa sesuai kebutuhan berdasarkan keputusan yang diambil para komandan dan pemimpinnya.

Kami menerima personal sedikit demi sedikit dan dengan adanya pemilihan dan rekomendasi. Di tangan Allah lah segala taufik.

Ini sehubungan dengan medan kami di sini. Sementara, medan-medan yang lain, masing-masing menyesuaikan situasi dan kondisi. Bisa jadi ada medan yang membutuhkan banyak personal sedangkan di saat yang sama ada medan lain yang tidak memerlukannya. Demikian seterusnya.

Namun, apakah ini menjadikan kita berpendapat bahwa jihad sekarang ini fardhu kifayah? Menurut pendapatku, pendapat ini tidak tepat. Dan saya tidak bisa berpendapat secara mutlak bahwa sekarang jihad fardhu kifayah. Karena kecukupan tidak terwujud dalam kenyataan. Karena, makna kifayah, sebagaimana dijelaskan ulama, terusirnya musuh, atau terpenuhinya jumlah yang dengannya musuh menjadi terusir dan ini sebenarnya juga belum terwujud. Kecukupan kami yang saya bicarakan ini kembali kepada ketidakmampuan kita menyerap personal dalam jumlah besar.

Faktor ini sebab terbesarnya adalah kesalahan orang-orang kaya dalam umat ini dan kesalahan orang-orang yang mempunyai kapasitas ilmu, para pemimpin dan kader-kader pilihan yang telah diberi banyak keahlian. Kalau tidak demikian, silahkan beri saya dana dan kader-kader pilihan, maka akan Anda lihat front-front dan kamp-kamp pelatihan yang akan kami buka untuk mereka dan Anda akan melihat apa yang akan kami perbuat terhadap musuh-musuh Allah, tentunya dengan pertolongan Allah. Wallahul musta'aan wa hasbunallah wa ni'mal wakiil (Allahlah tempat meminta pertolongan dan cukuplah Allah penolong kami dan Dialah sebaik-baik penolong).

Kemudian, karena kecukupan ini bersifat sementara maka aku katakan kepada Anda, sekarang ini kami tidak membutuhkan banyak personal. Namun, suatu hari nanti bisa jadi saya akan menyerukan dan mengatakan, "Marilah ke sini wahai para pemuda Islam, kami membutuhkan muqatil sebanyak-banyaknya. Karena ini adalah perang. Perang akan memakan banyak korban. Dan Allahlah Yang Maha Melindungi.

Demikian juga front-front, ia akan dibuka tergantung kemampuan dan hikmah serta kepentingan (maslahat). Ini harus diperhatikan.

Kemudian hal lain yang perlu saya ingatkan, saya membatasi dengan medan kita dan medan-medan yang serupa, namun bagaimana dengan negeri-negeri Islam, bahkan seluruh dunia? Pertama (negeri Islam), tidak diragukan lagi bahwa banyak negeri kaum muslimin sedang dijajah dan dikuasai oleh orang-orang kafir dan sebagianya sudah berlangsung berabad-abad. Wallahul musta'aan.

Dari mulai Andalusia di sebelah barat, pesisir Eropa Selatan, Asia Tengah, Semenanjung Balkan, Kaukasus dan sekitarnya, sampai Turkistan Selatan di Cina, sampai banyak negara Asia Tenggara, Singapura, Philipina, Thailand, dan lain-lain. Bahkan India atau sebagian besarnya dan negara-negara lainnya. Semua negeri-negeri tersebut dulunya pernah menjadi negri Islam dan negara Islam, namun kemudian dirampas musuh. Maka wajib atas kaum muslimin mengembalikannya dan membebaskannya dari tangan orang-orang kafir murtad yang berasal dari bangsa kita sendiri. Wajib berperang dan berjihad melawan mereka. Setiap orang yang mampu wajib melaksanakannya. Secara syar'i, hukum asalnya, memerangi mereka lebih didahulukan daripada menyerang orang-orang kafir asli di negara-negara mereka. Adapun ketika sekarang lebih memprioritaskan memerangi orang-orang kafir asli (Amerika dan sekutunya) karena ada faktor yang mengharuskan demikian. Lalu siapa yang berjihad melawan mereka? Dan bagaimana kami katakan jihad hukumnya fardhu kifayah?! Kalau kami demikian, sungguh kami orang-orang yang terlalu berani!

Kedua yaitu ucapanku, bahkan seluruh dunia. Karena seluruh dunia menunggu-nunggu kita untuk menaklukkannya dengan Islam dengan cara memerangi negara-negara kafir dan menaklukkannya sehingga tidak ada satu pun fitnah dan seluruh dien hanya milik Allah dan sehingga kekafiran tidak memiliki kekuasaan perkasa yang menghalangi manusia dari Islam.

Pada asalnya ini hukumnya fardhu kifayah atas umat Islam. Namun bisa Anda lihat, ia disia-siakan dan tidak yang melaksanakannya. Jadi, semuanya terancam mendapat sanksi kecuali orang yang menyampaikan udzur kepada Allah dengan mengamalkan apa yang mampu dilakukannya.

Mungkin bisa kami tambah kewajiban-kewajiban yang lain, seperti membebaskan tawanan. Ini adalah fardhu kifayah atas umat ini dengan segala jalan yang disyariatkan. Dari mulai dengan menebus mereka dengan harta atau membebaskan dengan jalan kekuatan, perang dan senjata, atau dengan spionase dan tipu daya.

Wajibnya menegakkan khilafah kaum Muslimin dan Daulah Islam yang sebisa mungkin menyatukan semua elemen umat Islam. dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Oleh karena itu, kami katakan, penjelasan makna jihad fardhu 'ain atas kita sekarang ini adalah bahwasanya wajib atas setiap muslim melaksanakannya menurut kesanggupannya dan sesuai dengan kondisinya serta menurut apa yang wajib baginya.

Ringkasnya, sebagaimana sering saya katakan, adalah kalimat Syaikh Abdullah Azzam Rahimahullah dalam kitab "Ilhaq bil Kafilah": Barang siapa yang bergabung dengan kafilah jihad dan Mujahidin dengan mengorbankan dirinya dan mempersiapkan diri, lisan perbuatannya mengatakan, sebelum lisannya, inilah saya salah satu panah kaum Muslimin silakan para pemimpin kaum muslimin lemparkan aku semau kalian. Maka dikatakan kepadanya: wahai fulan Anda pergi ke tempat ini, Anda pergilah ke Chechnya, karena mereka membutuhkan orang seperti Anda dan karena pergi ke sana bagi Anda mudah, misalnya. Anda wahai fulan pergilah ke tempat itu, dan Anda tetaplah tinggal di tempatmu, bekerjalah di bidang ekonomi, finansial, bisnis, tulis-menulis, berceramah, dakwah, dan media atau menuntut ilmu, Anda wahai fulan Anda harus begini. Barang siapa yang memungkinkan berhubungan dengan para komandan jihad sehingga ia bisa menjelaskan kepadanya apa yang sesuai dan wajib baginya dengan tulus, jujur dan ikhlas, ini sudah jelas (tidak perlu dibahas). Dan barang siapa yang tidak mampu, padahal ini kebanyakannya, maka orang semacam ini hendaknya berjalan sesuai dengan strategi umum yang sudah dikenal, mencurahkan kerja kerasnya menurut kesanggupannya, bertakwa kepada Allah, bermusyawarah dengan ulama dan mujahid yang bagus dan amanah dalam dien dan ilmunya. Semoga Allah memberinya taufik dan petunjuk. Dengan itu, ia telah menunaikan kewajibannya dan terlepas dari kewajiban insya Allah. Allah menerima amalan orang-orang bertakwa. Oleh karena itu, pendapat yang benar, jihad pada hari ini tidak wajib minta izin kepada kedua orang tua. Wallahu A'lam. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

(...Kemudian Syaikh mengklarifikasi seputar pertanyaan mengenai kondisi ikhwah yang enam bulan di afghan dan belum diturunkan ke front...)_Selesai jawaban dari Syaikh.

Dari fatwa Syaikh Athiyatullah Hafizhahullah jelaslah bahwa memaknai jihad global fardhu'ain sampai Andalusia kembali ke tangan kaum Muslimin bukan berarti harus langsung melakukan amaliyah jihadiyah seperti melaksanakan sholat yang bisa kapan saja dimana saja ketika masuk waktu langsung dilaksanakan, sholat pun ternyata juga perlu persiapan seperti wudhunya bagaimana, tempat sholatnya layak atau tidak dan seterusnya. Bila jihad fardhu'ain dipahami pokoknya wajib amaliyah maka akan terjadi konsep "yang penting jihad" tanpa mempertimbangkan perhitungan kemampuan yang cukup, situasi, kondisi waqi', pertimbangan politis dan keberlangsungan jihad itu sendiri. Jika sholat saja yang fardhu'ain perlu pendahuluan yang cukup seperti wudhu dan lain-lain, bagaimana halnya dengan jihad yang terkait dengan penghalalan darah, harta, juga dalam rangka iqomatuddin, maka tentu harus lebih dipersiapkan dan dipertimbangkan lebih matang lagi.

Akhirnya, kita bisa melihat betapa Al Qaeda yang luar biasa dalam aksi jihadnya begitu bijak dalam menyikapi realitas dan sangat berhati-hati dalam beraksi, bagi kita di Indonesia yang jelas belum sebanding dengan mereka maka selayaknya kita mengambil pelajaran yang banyak dari mereka guna mengulang sukses mereka di negri ini. Kita semua yang merindukan tegaknya Islam melalui salah satu jalannya yang bernama jihad harus menyadari bahwa masih banyak hal-hal yang perlu kita persiapkan lebih masak untuk kemudian merealisasikan jihad di Indonesia sebagaimana Tanzhim Qoidatul Jihad (Al Qaeda di Afghanistan, Iraq, Somalia dan front-front lainnya. Wallahu'alam. Salam hangat bagi para perindu jihad. (AD.P).


Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9387/perampokan-untuk-jihad-antara-pandangan-al-qaeda-dan-aksi-para-pengagumnya-#ixzz14hvI0mtG

Sabtu, 02 Oktober 2010

Pernyataan Janggal Sofyan Tsauri VS Penjelasan TEGAS dari Ustadz Ubeid alias Abu Musa Ath Thoyyar!!

Ikhwah Fiddien, kontroversi siapa Sofyan Tsauri sebenarnya masih hangat diperbincangkan dan masih menjadi misteri siapa dia sebenarnya. Terlebih baru-baru ini Sofyan Tsauri baru memberikan pernyataan blak-blakan dan membantah bahwa dirinya Bukan INTEL atau PENYUSUP MELAINKAN Saya Ini Adalah Buah Dari Dakwah Tauhid!, begitu kesaksian Sofyan ketika diwawancara oleh TribunNews dan berita ini juga di publish oleh situs Arrahmah.Com. Sebenarnya hanya membuang-buang waktu saja jika kita asik dengan menuduh dia intel atau bukan, toh cepat atau lambat Allah pasti akan menunjukkan kebenaran. Tapi intinya adalah TIDAK DIPUNGKIRI BAHWA SOFYAN TSAURI ADALAH PRIBADI YANG BERMASALAH!!!

Banyak fakta dan kejanggalan dari apa peran Sofyan Tsauri yang mengaku sebagai Instruktur Jihad Aceh pada kasus ini. Salah satunya adalah kesaksian 9 laskar FPI yang langsung dilatih menembak oleh Sofyan Tsauri di Mako Brimob Kelapa 2 Depok padahal saat itu statusnya adalah DESERTIR POLISI. Sofyan juga mengakui bahwa dia melatih beberapa ikhwan di Mako akan tetapi itu hanya sebatas latihan AirSoftGun. Yang lebih aneh lagi adalah mengapa berlatih AirSoftGun masing-masing ikhwan diberikan puluhan peluru tajam setiap kali BERLATIH?? Wallahu A'lam

Kali ini bukan hal itu yang ana mau bahas sebab hampir semua media baik media sekuler maupun media Islam dan Jihad telah sama-sama mengangkat berita tersebut, yg ana mau bahas adalah pernyataan yang jauh berbeda yang diberikan oleh Sofyan yang secara BLAK-BLAKAN MEMBUAT STATEMENT DENGAN PERNYATAAN USTADZ UBEID Alias ABU MUSA ATH THAYYAR Dalam suratnya yang dirilis oleh Arrahmah.Com beberapa waktu lalu.

Ok, mari kita simak kembali dan ana akan tampilkan pesan masing-masing yang sama-sama dipublish oleh Arrahmah.Com..


Sofyan Tsauri : Saya Bukan Penyusup atau Intel Polisi. Saya Ini Adalah Buah Dari Dakwah Tauhid!

oleh arrahmah.com pada 24 September 2010 jam 9:39


DEPOK (Arrahmah.com) - Ini pengakuan blak-blakan dari Sofyan Tsauri, mantan anggota Samapta Polres Depok yang disersi dan kemudian dituduh menyusup ke tubuh Tandzim Al Qaeda Serambi Mekkah. Simpang siur tentang kiprah Sofyan Tsauri pun beredar baik di kalangan awam maupun aktivis Islam. Berikut pengakuan langsung dari Sofyan Tsauri di PN Depok, Jawa Barat (23/9).

Saya bukan penyusup atau intel polisi. Saya ini adalah  buah dari dakwah tauhid. Kalau saya susupan, saya tempatnya bukan di dalam sel. Saya ditangkap bersama istri saya. Kalau mau tahu  bagaimana saya ditangkap, tanya istri saya.
 

Saat penangkapan,suasananya sangat dramatis, ada  tembakan di jalan. Saya bukan susupan. Saya sangat  menyayangkan kalau ada yang bilang saya intel penyusup.
 

Saya sudah memberikan mereka 28 senjata api dan  puluhan ribu peluru. Justru saya dikhianati oleh  mereka. Saya menjadi kambing hitam atas kegagalan  jihad di Aceh.
 

Jihad Aceh sudah kita rencanakan. Mungkin mereka tidak  cross check ke sana. Mungkin mereka minim  pengetahuannya tentang saya. Bisa di cross check ke Polres Depok siapa saya.
 

Saya itu awalnya ingin menegakkan syariat Islam untuk  membawa Indonesia ke jalan yang lebih baik. Karena  hanya dengan syariat Islam di Indonesia akan menjadi lebih baik.
 

Tokoh mujahid yang saya suka adalah sosok Dulmatin.  dan saya memang sengaja mencari tahu keberadaan dia  untuk bergabung. Karena Allah, saya akhirnya bertemu Dulmatin. Kemudian saya dan beliau ketemu di  Aceh,lalu mengadakan program latihan di Aceh.  Pelatihan jihad.
 

Saya ketemu Dulmatin di Aceh akhir 2008 dan awal 2009.  Saya waktu itu sudah desersi. Saya juga bilang sama  Dulmatin kalau saya ini desertir polisi karena bulan Juni 2009 dipecat.
 

Banyak rumor beredar,saya dipecat karena sakit hati  lalu cari jalan lain. Itu salah. Saya sebelum menjadi  polisi saya sudah aktif berdakwah. Kemudian karena  tuntutan, dan panggilan dakwah tauhid saya memilih  jalan untuk berjihad.
 

Saya tidak merasa dikhiananti korps yang thogut  (kepolisian). Saya sudah keluar dari polisi, baru saya  jadi teroris. Apa yang dilakukan ini bukan tindakan teror. Ini adalah ibadah, ini perintah Allah yang  wajib.
 

Saya bersama Dulmatin sebulan di Aceh. Berkeliling ke  semua wilayah Aceh karena kita mengumpulkan  faksi-faksi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) disana untuk  jihad. Kita cari orang GAM yang mau bertempur kembali.
 

Banyak yang mau ikut. Ada yang berasal dari pesantren,  mantan-mantan GAM juga ada dan banyak dari beberapa  elemen.

Aksi Di Medan Hasil Didikan Sofyan

Sofyan Tsauri juga ditanyak tentang aksi baru-baru ini yang menggemparkan Medan, Sumatera Utara. Menurutnya, mereka itu adalah ikhwan-ikhwan lulusan camp Tandzim Al Qaeda Serambi Mekkah. Berikut pendapatnya:

Insya Allah, (aksi) di Medan itu mereka adalah bagian dari ikhwan-ikhwan kita yang lulusan latihan perjuangan kita (camp pelatihan kemiliteran teroris) di Aceh.
 

Saya pernah melatih sampai 100 orang awal 2009 dan kesempatan lain pernah melatih sampai 67 orang. Ini cukup banyak. Orangnya berbeda-beda.
 

Kalau yang 16 (tersangka teroris Medan) sudah ditangkap, itu mungkin bagian kecil saja. karena belum tertangkap semua.
 

Dan bisa jadi lebih banyak lagi karena ini program lintas tandzim. Berbagai kelompok-kelompok jihad yang akhirnya membentuk Al Qaeda untuk wilayah Indonesia
 

Saya tidak tahu siapa yang (jadi) pemimpin saat ini. Karena saya sudah di dalam sel tahanan. Kata Polisi yang memegang peranan Abu Tholut. Tapi kita kan enggak tahu juga, Kalau terakhir ada pengerebekan, ada Abu Tholut.
 

Saya enggak tahu apakah Abu Bakar Basyir (ABB) terlibat, program ini. Tetapi ternyata dari teman-teman yang lain, dia (Baasyir) ikut menyumbangkan dana.
 

Tapi saya tidak tahu, karena saya tidak pernah berhubungan dengan Ustad Abu Bakar Baasyir. Ustad Baasyir juga tidak kenal saya. Tapi ternyata sambung menyambung. Jaringan teroris kan under ground, gerakan kita dibawah tanah semua.
 

Mungkinkan, karena ideologi kita sama, yakni dakwah untuk mengajarkan jihad. Saya ketemu Dulmatin di Aceh. Tapi sebelumnya ketemu di Jakarta juga sering di rumah saya. Dan kita kalau ke Aceh berangkat sendiri-sendiri. Saya ikut aturan dia karena dia punya sistem security tersendiri.
 

Saya ingin beribadah. Saya ingin berjihad, saya peduli dengan bangsa ini. Dan saya ini mau tentram mau aman dan itu hanya bisa  dilakukan dengan syariat Islam. Saya yakin dengan jihad pemerintah ini akan lebih baik.
 

Banyaknya korban itu ekses dalam peperangan. Amerika saja yang sudah mempunyai kota, dengan menggunakan dengan teknologi canggih, masih mengenai rakyat sipil (senjatanya). Ini akses karena peperangan pasti menimbulkan korban yang tidak kita inginkan. Yang pasti, kita tidak pernah menargetkan rakyat sipil.
 

Dan sekarang, pola kami sudah berubah, dari yang ngebom menjadi peperangan bersenjata. Karena dengan senjata kita lebih fokus dan targetnya jelas.
 

Tapi kalau bom bisa kena warga sipil dan lainnya. Alasannya supaya lebih fokus jadi kita bisa menghindari korban warga sipil yang tidak perlu. Dengan senjata, target jelas. Dengan senjata, dan memang faksi-faksi jihad di Indonesia itu lebih setuju dengan cara ini.
 

Kita jadi punya titik temu disitu. Makanya berbagai macam kelompok seperti NII, Ustad Ana, kelompok Erwin dari kelompok sempalan JI itu ada, dari Al Qaeda itu juga ada. Bahkan kita sudah ke Filipina karena seorang teman kita ada yang meninggal di Filipina.
 

Kita belum menetukan target serangan waktu itu. Tapi wacana sudah ada. Dan  kita sepakat menggunakan bendera Al Qaeda. Antum (anda) mungkin sudah paham bagaimana Al Qaeda itu selalu menargetkan pasti sasaran asing.

Wallahu'alam bis Showab!

(M Fachry/TribunNews/arrahmah.com)

Dan ini adalah Penjelasan dan Pesan langsung dari Komandan Jihad Aceh Ustadz Ubeid alias Abu Musa Ath Thayyar. Check This Out!!

Exclusive Arrahmah.Com: Penjelasan dan Pesan Salah Satu Komandan Jihad Aceh, Ustadz Ubaid
Oleh Saif Al Battar pada Senin 30 Agustus 2010, 11:20 PM

DEPOK (Arrahmah.com) – Sebuah pesan berupa surat diterima oleh redaksi arrahmah.com dari Ustadz Abu Musa Ath Thoyyar (Ubaid) tersangka "terorisme" Aceh. Beliau bersama beberapa ikhwan lainnya ditangkap terkait pelatihan militer di Aceh beberapa bulan lalu. Hingga saat ini, pelatihan militer di Aceh masih menjadi misteri yang belum terkuak. Apa kata Ustadz Abu Musa Ath Thoyyar (Ubaid) tentang pelatihan militer di Aceh? Berikut isi pesan Beliau:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Alhamdulillah wahdahu wa sholatu wassalam ala rosulillahwa ala ilahu wa man walahu, wa ba'du...

Kami telah mendengar berbagai komentar dan reaksi dari umat Islam umumnya dan dari ikhwan-ikhwan aktivis khususnya, tentang kami yang melakukan pelatihan militer di Aceh sampai akhirnya kami tertangkap.

Kami sangat menyayangkan adanya banyak komentar, analisa dan kesimpulan yang hanya berdasarkan isu, sangkaan atau informasi media yang biasa merekayasa fakta. Terkadang hal ini semakin memperberat kesedihan yang tengah kami rasakan.

Yang meringankan kesedihan ini, kami tetap berusaha berbaik sangka bahwa kebanyakan komentator dan analis tersebut melakukan itu semua karena besarnya semangat mereka untuk membela umat islam. Kami akui bahwa kami tidak bersih dari kesalahan. Namun berbagai upaya yang tengah kami kerahkan dan berbagai kondisi yang kami hadapi selama persiapan sampai tertangkap, sampai sekarang. Semoga menjadi udzur atau penghapus kesalahan-kesalahan itu. Sementara kondisi ini tidak memungkinkan untuk memberikan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.

Maka saya tegaskan disini, apa yang pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam "Jika kalian dapatkan saya berada di barisan musuh umat Islam yang selama ini menyengsarakan kalian, maka bunuhlah saya, meski Al Qur'an di atas kepala saya."

Terakhir, entah sampai atau tidak kami ingin sampaikan salam kepada Syeikh Usamah, Syaikh Aiman dll bahwa inilah anak-anakmu yang belum pernah mengenalmu, dengan segala kemampuan berusaha membangun jama'ah yang akan menjadi prajurit yang patuh di bawah pimpinanmu. Tapi akhirnya Allah sajalah yang menetapkan hasilnya. Dan tidak ada yang bisa kami lakukan selain ridho dengan ketetapan-Nya.

Ya Allah teguhkan kami di jalan-Mu sampai khusnul khotimah.

Wassalamualaykum..

Abu Musa Ath-Thoyyar aka Ubaid,Mako Brimob Kelapa Dua-Depok

Source: http://arrahmah.com/index.php/news/read/8966/exclusive-arrahmah.com-penjelasan-dan-pesan-salah-satu-komandan-jihad-aceh-#ixzz11DDTtyko

Antum silahkan beri penilaian sendiri terhadap dua pernyataan yang sangat berbeda antara statement Soyfan Tsauri dengan statement Ustadz Ubeid yang juga mendapat fitnah sebagai "pengkhianat" terkait dengan komentarnya di salah satu tv mengenai keterlibatan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir dalam Jihad Aceh (yang gencar memojokkan mujahidin dengan fitnah-fitnahnya).

Ikhwah Fiddien, tidak ada maksud apa-apa dengan note ana kali ini. Hanya saja ana ingin mengajak antum semua untuk berlaku adil dan melihat persoalan ini dengan jelas dan terang. Karena batasan melihat atau menilai seseorang dari ZOHIRNYA ADALAH BUKAN MELIHAT APA YANG NAMPAK MELALUI PERILAKU ATAU PERISTIWA MELAINKAN MELIHAT FAKTA YANG ADA. Misteri ini cepat atau lambat akan terungkap, jadi biarlah Allah yang akan membuka semuanya, karena tidak akan ada yang luput dari-Nya.

Allahummansuril Mujahideen Fie Kulli Makaan Wa Fie Kulli Zaman. Allahumma Fukka Qaedal Asro Wa Asronal Mujahideen

Ukhtukum Fillah

~Malika Alexandrina~